Perempuan merokok

Chef Renata, Perempuan Merokok, dan Yang Salah Dari Masyarakat

Perempuan merokok adalah hal biasa. Bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, apalagi harus diperdebatkan. Perempuan yang merokok sama saja seperti laki-laki yang merokok. Tidak ada urusan dengan norma, kesopanan, atau juga kenakalan. Semua hanya menjadi salah ketika perempuan berhadapan dengan pola pikir patriarki dan seksis.

Sama seperti ketika Chef Renata Moelek, seorang koki handal yang juga menjadi juri di ajang kontes masak televisi, terlihat gambar dirinya memegang sebatang rokok. Hujatan demi komentar hadir dari publik. Kebanyakan, menyayangkan aksi Renata memegang rokok. Sebagian lainnya menghakimi Renata hanya karena sebatang rokok di tangannya.

Bagi saya, siapapun itu, perempuan atau pun lelaki, mengonsumsi rokok adalah hak personal mereka. Selama rokok masih menjadi barang yang legal dikonsumsi di Indonesia, selama itu pula tidak ada hak orang lain bahkan masyarakat untuk menghakimi aktivitas merokok. Beda hal kalau kemudian negara telah membuatnya ilegal, barulah boleh itu penghakiman bahkan penindakan secara pidana dilakukan.

Persoalannya, rokok masih menjadi barang legal, dan pilihan seorang perempuan untuk merokok adalah hak yang tidak bisa diintervensi. Kalau memang mau merokok, dan itu pilihannya, ya terserah. Kecuali itu adalah hal yang dipaksakan, kita tak boleh mengomentari aktivitas orang lain merokok. Termasuk ketika perempuan lah yang merokok. Harusnya sih begitu.

Sialnya, ini adalah Indonesia. Sebuah negara dengan penduduk yang memegang teguh adat ketimuran. Memegang teguh norma kesopanan. Dan, tentu saja, memegang teguh prinsip ahlakul karimah. Pada konteks ini, mereka menilai kalau perempuan merokok itu tidak sopan, nakal, dan melanggar kaidah.

Meski jika ditanyakan, mereka tak bakal bisa menjawab kaidah macam apa yang dilanggar. Paling argumen mereka hanya berkisar pada ketidakpantasan seorang perempuan untuk merokok, yang tentu saja adalah sikap yang versi mereka belaka.

Di konteks ini, cara berpikir yang patriarki dan seksis telah membawa kondisi perempuan merokok menjadi sulit. Jangankan untuk urusan rokok, dengan cara berpikir busuk seperti ini, perempuan bekerja saja dipersoalkan. Padahal ya dengan bekerja, perempuan telah mempersiapkan kemandirian ekonomi baginya. Tidak hanya itu, dalam urusan keluarga, Ia pun terlibat aktif dalam menyejahterakan kehidupan keluarga.

Namun, sekali lagi, karena ini adalah Indonesia, perkara mudah semacam ini dibuat jadi rumit berkat cara berpikir yang sungguh tidak bisa dibenarkan. Perempuan merokok itu hak, sama seperti hak perempuan untuk mengejar karir. Sepanjang aktivitas mereka tidak merampas hak orang lain, tentu tidak boleh aktivitas itu dilarang. Jangankan oleh lelaki, oleh perempuan yang berpikir busuk begitu pun tidak boleh. Jadi, mari lawan segala cara berpikir patriarki dan seksis yang melarang hak perempuan untuk merokok.

Category : Artikel
Tags :