fidel castro

Fidel Castro, Cerutu, dan Kuba

April lalu di hari terakhir Kongres Partai Komunis Fidel Castro telah memberikan pertanda kepergiannya, “sebentar lagi aku akan berusia 90 tahun. Sesuatu yang tak pernah kusangka. Sebentar lagi aku seperti yang lainnya, giliran kita semua pasti datang.”

fidel castro

Pada 26 November 2016 kemarin, ia benar-benar pergi. Fidel Castro wafat. Dan rakyat Kuba tetap bersedih. Begitu pula dengan orang-orang yang memberi hormat atas komitmennya atas kemanusiaan dan sosialisme. Pesan yang disampaikannya tidak sanggup menutup luapan duka atas kematian pemimpin Kuba itu.

Kita di Indonesia barangkali mengenal Kuba dari cerutunya. Sebuah produk olahan tembakau yang identik dengan Kuba. Di produk ini pula kita melihat kepemimpinan Fidel Castro, dimana ia menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing dan kemudian dikelola oleh negara, serta hasilnya dipersempahkan untuk kepentingan rakyat.

tembakau

Sebagai produk strategis industri cerutu banyak mendapat dukungan dari pemerintah. Kuba bahkan menolak meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control atau Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau) yang dirancang WHO (World Health Organization) dengan dukungan perusahaan multinasional farmasi. Karena dari cerutu, pendapatan negara didapat dari hasil ekspor produk ini, dan lebih penting lagi, pendapatan rakyat yang bekerja dari hasil mengolah cerutu.

Di Kuba, tembakau sebagai bahan baku cerutu ditanam di seluruh lahan di daerah barat daya Havana, tepatnya di Vuelto Abajo. Daun tembakau Kuba yang berkualitas terbaik dihasilkan di daerah berangin, sehingga menjadikannya bercita rasa khas. Daun-daun tembakau itu tak langsung diracik menjadi cerutu di Havana, tapi terlebih dahulu disimpan di dekat San Luis dan Pinar del Rio.

cerutu kuba

Namun perjalanan industri cerutu di Kuba tak berjalan mulus. Begitu Kuba dipimpin oleh Fidel Castro, ia menasionalisasi perusahaan-perusahaan strategis
yang kemudian berujung embargo atas produk-produk dari negaranya, termasuk cerutu. Amerika Serikat berada di balik embargo ini.

Tapi Fidel Castro yang menyadari potensi ekonomi dan sosial dari cerutu tak tinggal diam. Dia berusaha keras mengalihkan pasar cerutu yang tadinya ekspor utamanya ke Amerika Serikat, lalu dipindah di Eropa.

Atas upaya-upayanya, tentu Fidel Castro tak disukai Amerika Serikat. Percobaan-percobaan pembunuhan diupayakan atas diri pemimpin Kuba itu, termasuk dari cerutu yang diberi peledak, yang kemudian menjadi alasan pemerintah Kuba mengeluarkan produk cerutu bermerek Cohiba pada 1981.

cerutu

Namun Fidel Castro dan pemerintahan Kuba sadar, bahwa ujung perlindungan dari cerutu adalah manusia yang bekerja untuk menciptakan produk unggulan itu, baik petani dan peracik cerutu. Salah satunya penghargaan itu diberikan kepada petani dan peracik cerutu paling dikenal di Kuba, Alejandro Robaina, meninggal usia 91 pada 2010. Dia diangkat menjadi duta cerutu oleh pemerintah Kuba dan diabadikan menjadi salah satu jenis cerutu Kuba.

Semasa hidupnya, dia tak lelah mengenalkan cerutu yang diproses di tanah airnya, dari cara merawat dan melindungi tembakau dari sengatan matahari secara berlebihan dengan menutupinya dengan kain katun. Ketika tembakau mulai tumbuh, menurutnya, mereka akan berbicara dan mengatakan apa yang mereka butuhkan, dan Anda harus mendengarnya. “Anda harus menyayangi tanah yang Anda gunakan dan juga peduli merawatnya,” tambahnya.

Kesabaran petani seperti Alejandro Robaina dan sokongan kebijakan dari pemimpin Fidel Castro, yang membuat industri cerutu Kuba berjaya.

Category : Artikel