petani tembakau

Terbongkarnya Kebohongan Human Rights Watch (HRW) Tentang Perbudakan Anak di Ladang Tembakau

Anda yang menyimak berita, baik di televisi, koran atau di internet (baik di kanal berita atau sosial media), pasti pernah melihat kesaksian pekerja anak yang mengeluhkan berbagai gejala sakit, di antaranya tangan gatal-gatal, pusing, dan mual akibat bersentuhan dengan tembakau.

anak petani tembakau

petani tembakau

Berita-berita itu merupakan sebaran dari rilis penelitian yang dilakukan oleh Human Rights Watch (HRW), sebuah lembaga yang memiliki perhatian atas hak asasi manusia dan berjejaring di banyak negara, termasuk di Indonesia.

rokok

Dari penelitian yang diklaim dilakukan di empat provinsi sepanjang 2014 sampai 2015 dan mewawancari 132 anak yang bekerja di ladang tembakau itu, HRW mengeluarkan Laporan Penelitian Tertulis ‘“Panen Dengan Darah Kami!” Bahaya Pekerja Anak dalam Perkebunan Tembakau di Indonesia’ dan Laporan Video ‘Hazardous Child Labor on Indonesia Tobacco Farms’.

Penelitian tersebut sepertinya sengaja digiring untuk memperburuk citra Indonesia dan juga komoditas unggulan Indonesia, tembakau (rokok kretek) berserta semua pihak yang terlibat di dalamnya. Utamanya petani. Sebab, penelitian tersebut tidak mempedulikan konteks Indonesia dimana orangtua kerap melibatkan anak-anak dalam aktivitas kerja yang dilakukan sebagai bagian dari transformasi pengetahuan, sarana bermain, dan pola pengajaran kepada anak-anak. Berbagai pola itu tidak diperhatikan, sehingga yang ada adalah ‘Buruh Anak’ dan ‘Pekerja Anak’.

anak petani tembakau

Upaya tidak baik dari penelitian ini terlihat jelas di film, dimana anak-anak terlihat bekerja keras di ladang tembakau. Semua anak-anak yang tampil di film itu diperlihatkan ‘diperas darahnya’ di perkebunan tembakau. Padahal sejatinya, sebagaimana diungkap dalam film yang dikeluarkan oleh Narasi Indonesia yang berjudul Tabayyun: Hazardous Child Labor on Indonesia Tobacco Farms Documentery, anak-anak itu bukanlah pekerja di ladang tembakau. Bahkan tidak pernah ikut orangtuanya pergi ke kebun.

Dalam pengambilan gambarnya pun, anak-anak itu diberitahu oleh orangtuanya tentang cara budidaya tembakau. Tapi ketika pengambilan gambar, orang ditiadakan. Fakta-fakta itu menjadikan HRW dihujat publik karena apa yang telah dilakukan adalah bentuk eksploitasi anak atas nama proganda anti tembakau.

Gambar Ilustrasi: Eko Susanto