orang merokok

Kenaikan Cukai Rokok Pangkas Jumlah Buruh

Ada banyak orang yang mengantungkan hidupnya pada tembakau. Mereka di antaranya adalah para petani tembakau, ribuan pekerja industri rokok kretek, pedagang klontongan, industri periklanan, dan lain-lain. Pedagang Klontongan misalnya jika dilarang berjualan rokok, maka separuh pendapatan warungnya akan turun drastis, belum lagi jika harga rokoknya dinaikkan. Warung klontongan menggantungkan hidupnya pada produk tembakau, karena orang-orang lebih suka berbelanja barang yang sifatnya eceran di minimarket dan swalayan.

rokok

Nasib rakyat kecil akan sangat dirugikan jika harga rokok dinaikkan oleh Pemerintah. Wacana ini sudah digaungkan mulai tahun ini. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPS) Sjukrianto, pemerintah selalu menaikkan tarif cukai rokok dalam 3-4 tahun terakhir ini dan kebijakan tersebut dibuat tanpa memperhatikan peningkatan pendapatan masyarakat. Kalau pendapatan masyarakat bertambah, tidak masalah cukai dinaikkan, tapi kan pendapatan masyarakat juga belum naik.

cukai rokok

Sjukrianto, berharap pemerintah tidak menaikkan lagi tarif cukai rokok. Imbas dari kenaikan cukai rokok ini panjang, dari pekerja rokok, industri, pedagang, sampai ke penerimaan negara. Masih banyak sumber pendapatan negara dari pos lainnya.

Kenaikan cukai rokok ini juga akan berpengaruh pada buruh-buruh pabrik rokok dan pekerja sektor pertembakauan di Indonesia. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) masih terjadi setiap tahun, salah satu faktornya adalah karena kenaikan cukai.

cukai rokok

“Kalau omset turun, pengusaha pasti PHK pekerjanya,” ujar Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP RTMM-SPSI) Sudarto.

Pemerintah memang memiliki kepentingan meningkatkan penerimaan negara untuk memenuhi kebutuhan belanja negara setiap tahunnya. Namun besaran tarif cukai yang tinggi dalam 5-8 tahun terakhir ini menyebabkan penurunan jumlah buruh rokok.

Kebijakan ini ditengarai akan terus dilakukan mengingat ada sentimen negatif mengatasnamakan kesehatan. Rokok selalu dianggap sebagai salah satu sumber penyakit, sehingga peredarannya harus dibatasi dan dinaikkan harganya. Sehingga perokok akan sangat kesulitan untuk mendapatkan rokok karena harganya yang sangat mahal. Ini sangatlah tidak adil, mengingat tidak adanya bukti-bukti ilmiah bahwa rokok adalah sumber penyakit berbahaya dan mampu membunuh manusia dalam jumlah yang sangat besar.

rokok

Ditambah lagi isu soal kemiskinan. Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2016 rokok memberikan sumbangan kedua terbesar terhadap garis kemiskinan di perdesaan sebesar 10,70% setelah beras yang berada pada 25,35%. Dari data ini pemerintah khususnya Kementrian Kesehatan, berpendapat bahwa menaikkan harga cukai rokok adalah salah satu jalan agar tingkat kemiskinan bisa ditekan, dan perokok tak mampu lagi membeli rokok. Padahal kalua dilihat dari sumber pendapatan negara dari cukai rokok tiap tahunnya dialokasikan ke tiap-tiap provinsi di Indonesia dan dalam jumlah besar. Dan kalua diperhatikan lebih detail lagi, uang hasil pajak cukai rokok ini dipergunakan 50% untuk sektor kesehatan dan penegakan hukum.

Kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah, harus dipikir ulang. Dan dilihat dari banyak sektor. karena ada banyak rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakauan ini. Jika kenaikkan cukai rokok ini benar-benar diterapkan pada 2019, bukan tidak mungkin akan semakin banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan.