Cukai rokok

Kenaikan Tinggi Tarif Cukai Bukti Munafiknya Sikap Pemerintah

Akrobatik, begitulah kiranya sikap pemerintah tatkala berurusan dengan tarif cukai rokok. Bisa ramah pada awalnya, tapi kemudian menjadi ganas ketika ingat akan kebutuhan. Ya namanya perkara cukai kan, sudah pasti urusannya bakal terkait dengan uang yang membuat orang bisa lupa diri.

Tentu masih jelas dalam ingatan ketika tahun lalu, akhir 2018 tepatnya, pemerintah mengambil keputusan untuk tidak menaikkan tarif cukai rokok. Katanya, situasi ekonomi sedang tidak bagus dan stakeholder industri tembakau perlu dilindungi. Padahal ya, kebijakan cukai ini diambil karena kebutuhan pemilu belaka.

Sialnya, satu tahun kemudian, rezim ini menunjukkan sikap aslinya: gila terhadap pemasukan. Diambillah sebuah kebijakan gila yang bakal mengancam kehidupan jutaan orang: menaikkan tarif cukai hingga 23% rata-rata. Hal yang, tentu saja sangat bertentangan dengan sikap mereka tahun lalu.

Entah dihilangkan ke mana rasa malu mereka, ucapan soal melindungi penghidupan pemangku kepentingan di industri ini tidak lagi dipertahankan. Bodo amat soal dampak dan nasib rakyat, yang penting kebutuhan negara akan pemasukan besar bisa terjamin. Karena memang, bagi rezim ini, pemasukan kas negara jauh lebih penting ketimbang kebutuhan penghidupan rakyat.

Sekadar mengingatkan, kenaikan tarif cukai yang signifikan bakal berdampak secara sistemik kepada hampir semua orang yang hidupnya bergantung pada industri kretek. Tidak hanya pabrikan akan berat untuk membeli pita cukai guna kebutuhan produksi, tapi juga konsumen yang daya belinya bakal turun jauh karena tak mampu beli rokok.

Hal yang terakhir disebut ini memang menjadi dalih bagi pemerintah untuk menaikkan tarif cukai secara signifikan di tahun 2020. Katanya sih, untuk mengurangi prevalensi perokok di bawah umur dan melindungi hak kesehatan masyarakat. Kesannya sih baik dan bagus, tapi penuh dengan kemunafikan dan kebohongan.

Seandainya pemerintah memang benar-benar ingin mengutamakan upaya perlindungan kesehatan masyarakat, harusnya sejak dulu mereka sudah membuat aturan untuk mengilegalkan rokok. Nyatanya, hingga hari ini rokok masih legal, dan tarif cukainya disedot melulu. Karena apa, tentu saja karena negara butuh pemasukan besar dari cukai dan pajak rokok.

Kalau sudah begini, melihat negara yang sama sekali tidak mau berpihak pada rakyatnya, ada baiknya kita sebagai rakyat juga bersikap bodo amat pada negara. Daripada bantu setor cukai besar, mending kita beli rokok yang murah saja, atau malah sekalian tingwe saja.

Category : Artikel
Tags :