perokok

Ketika Fahmi Idris Diskreditkan Perokok Terkait BPJS Kesehatan

Ada-ada saja kelakuan BPJS Kesehatan ini. Sudah tahu ditentang masyarakat karena mau menaikan tarif iuran, eh sekarang malah diskreditkan perokok soal menyisihkan anggaran. Padahal ya, terkait manajemen anggaran, perokok itu lebih ahli ketimbang BPJS. Toh yang tiap tahun banyak defisit kan BPJS, bukan perokok.

Semua bermula ketika Direktur BPJS Kesehatan, Fahmi Idris mengutarakan pendapatnya di media agar masyarakat bisa menyisihkan uang untuk membayar iuran BPJS. Oh maaf, bisa membayar iuran yang telah naik 100% tarifnya. Katanya sih, kalau nabung sehari Rp 5 ribu, masyarakat harusnya mampu menghadapi kenaikan tarif tersebut.

Namun, satu hal yang tentu tidak bisa kita terima, adalah ketika dirinya mendiskreditkan perokok terkait menyisihkan duit tersebut. Katanya, “Beli rokok Rp 8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp 5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran,”. Oh, maaf pak, tolong ya, siapa bilang perokok tidak mampu menyisihkan uang untuk bayar iuran?

Asal tahu saja, jangankan iuran BPJS dinaikkan, sejak tahun lalu perokok itu sudah sering membantu BPJS Kesehatan loh. Tahun lalu, dana cukai rokok sebesar Rp 5,7 triliun diberikan pada BPJS untuk menutup defisit. Sekadar mengingatkan, dana cukai rokok sebesar Rp 5,7 triliun itu didapat dari duitnya perokok. Bukan duitnya para koruptor, pak.

Jadi, tolong lah, jangan pandang perokok sebagai orang miskin. Toh banyak juga perokok yang lebih memilih ikut asuransi dengan premi yang lebih mahal ketimbang ikut BPJS yang merepotkan itu. Lagi-lagi, persoalan BPJS ini bukan urusan seseorang merokok atau tidak, jadi nggak usahlah dikait-kaitkan.

Lagipula, perkara BPJS dan Jaminan Kesehatan Nasional ini urusan pemerintah (pusat/daerah) dengan rakyat. Kalau memang mau kasih jaminan kesehatan, ya harusnya sih nggak perlu pakai narik iuran. Kalau memang masyarakatnya kurang mampu, ya nggak usah pake bayarlah. Lagian itu BPJS kok pikirannya cari untung, itu toko kelontong apa penyedia jaminan kesehatan untuk rakyat?

Sekadar mengingatkan loh, pak, selama ini para perokok dengan santuy dan bersahaja rela membantu BPJS untuk menutup defisit. Walau kemudian, negara malah menaikan tunjangan direksi dan komisaris BPJS, kami tidak peduli kok. Kami baru merasa perlu berkomentar ketika BPJS Kesehatan yang perlu banyak dibantu duit cukai justru mendiskreditkan kami para perokok. Tahu gitu mah kita tentang aja nantinya segala bantuan dana dari perokok buat BPJS.

Category : Artikel
Tags :