Rokok menyebabkan kemiskinan?

Ketika Rokok Dituduh Jadi Biang Keladi Kemiskinan oleh Pendukung Rezim

Rokok adalah penyebab kemiskinan. Narasi macam begini sudah lebih 3 tahun digaung-gaungkan oleh banyak pihak termasuk antirokok. Namun, belakangan ini, narasi rokok penyebab kemiskinan bukan lagi menjadi komoditas kampanye antirokok, tetapi juga pemerintah beserta para pendukungnya.

Ya, sejak dulu saya selalu menegaskan bahwa upaya menjadikan rokok sebagai kambing hitam kemiskinan adalah cara negara beserta pendukungnya lari dari kesalahan. Bagaimana tidak, rokok yang menjadi barang rekreatif paling terjangkau dan menghibur rakyat justru dijadikan biang keladi atas kemiskinan mereka. Padahal, tanpa rokok, bisa jadi mereka akan makin stres dan berantakan hidupnya.

Selama ini rokok memang menjadi salah satu produk yang menyelamatkan kehidupan rakyat. Buat mereka yang hidupnya bergantung atas industri rokok, rokok tidak hanya memberikan mereka penghasilan, tetapi juga tumbuh dan hidup bersama mereka. Mulai dari petani, buruh linting, hingga pedagang asongan, semua hidup dan tumbuh bersama rokok.

Sementara itu, bagi mereka yang hidupnya tidak langsung bergantung pada rokok, ditumpahkanlah segala kepenatan dan rasa frustrasi atas kerja sehari-hari mereka. Mereka melampiaskan rasa pusing terhadap rokok. Menjadikan rokok sebagai sebuah moodbooster dan juga menjadi sarana mereka sedikit bahagia di tengah jeratan kapitalisme.

Karena itulah, ketika seorang Komisaris BUMN plus Juru Bicara Presiden yang nontabenenya jelas pendukung rezim menyebut bahwa rokok adalah biang keladi kemiskinan, saya tegas menyatakan itu hanya sebuah upaya mereka lari dari kesalahan mereka. Dimana-mana kemiskinan itu tercipta karena keadaan yang sistemik. Bagaimana bisa rakyat menjadi sejahtera ketika upah minimum bulanan mereka saja tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka?

Ya, kemiskinan itu tercipta karena kesalahan negara. Karena pemerintah yang tidak mampu melindungi buruh dan pekerjanya, karena negara yang gagal menciptakan lapangan kerja, juga karena pemerintah yang gagal menjaga stabilitas harga pasar.  Toh biar bagaimana pun juga, negara selama ini telah menjadikan politik upah murah sebagai panglima atas kebijakan ketenagakerjaan. Tidak mungkin kan masyarakat bakal sejahtera dengan pijakan politik yang seperti ini?

Jadi, Bung Fadjroel Rachman yang terhormat, ketimbang menyalahkan rokok atas persoalan kemiskinan, kenapa tidak kembali mengkritik pemerintah seperti yang dulu Bung Fadjroel lakukan? Ah iya saya lupa, sebagai pendukung rezim yang dibagikan jatah kue kekuasaan, Anda tidak mungkin melakukan itu

Category : Artikel
Tags :