orang merokok

Kisah Rokok Kretek di Masa Revolusi

Sejak jaman revolusi fisik, aktivitas merokok merupakan realitas sosial yang menjadi budaya di negeri ini. Aktivitas merokok tidak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa tetapi juga dilakukan oleh tentara dan polisi, juga laskar-laskar pejuang revolusi. Penggambaran ini dituliskan Misbach Yusa Biran dalam biografinya yang berjudul “Kenang-Kenangan Orang Bandel”. Buku biografi Misbach Yusa Biran diterbitkan saat dirinya berusia 70 tahun.

Misbach Yusa Biran merupakan salah satu tokoh film nasional. Selain berprofesi sebagai sutradara, penulis skenario, jurnalis, juga sangat tekun menulis buku. Salah satu bukunya yang terkenal adalah kumpulan cerpen “Keajaiban di Pasar Senen” yang berkisah tentang kehidupan seniman di sekitaran Pasar Senen. Tulisan itu sangat memukau dan menggelitik kehidupan sosial kita. Mulai dari kehidupan kere seniman yang berbagi sebatang rokok hingga hubungan persahabatan antarseniman di sana.

orang merokokNamun kisah Misbach Yusa Biran yang cukup mengejutkan tentu saja ada dalam buku biografinya “Kenang-Kenangan Orang bandel.” Dalam biografi itu, Misbach kecil hidup pada saat jaman revolusi fisik tengah melanda negeri ini. Misbach menuliskan pengalaman masa kecilnya dengan sangat detail. Masa remaja Misbach adalah masa dimana agresi militer Belanda datang kembali untuk menjajah negeri kita usai Jepang mengalami kekalahan dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada situasi yang genting ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten, karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Untuk menunjang kehidupan ekonomi keluarganya yang ditinggal bapaknya berjuang, ibu Misbach berjualan kain, dan berjualan rokok. Saat itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang beredar merupakan stok rokok lama jatah untuk para tentara dan polisi. Kualitas rokoknya tentu sudah apek dan tak layak konsumsi. Melihat kondisi seperti itu kemudian orang membuat rokok. Setiap orang membuat resep rokok sendiri. Tembakau Mole yang biasa digunakan untuk susur diracik menjadi tembakau siap linting yang harum.

“Saya dan ibu berkeras untuk membuat rokok,” tulis Misbach dalam biografinya.

“Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak diisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili, dan dengan entah apalagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag…”orang merokok

“Yang menjualnya saya sendiri,” Lanjut tulisan Misbach, “Di stasiun kereta api, pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan.”

Pada masa itu stasiun Rangkasbitung penumpang penuh sesak. Selain penumpang, di stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara dan laskar yang akan pergi dan pulang dari medan perang. Pedagang rokok juga banyak, tulis Misbach. Ada yang menjual rokok kretek, ada yang menjual rokok kemenyan atau klembak bikinan orang jawa. Namun rokok yang paling populer pada saat itu adalah rokok “Tjap Gajah”. Kertasnya berwarna kuning.

“Rokok buatan kami rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.” Demikian tulis Misbach Yusa Biran.

Membaca biografi Misbach Yusa Biran kita mendapat pengetahuan bahwa rokok tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat di negeri ini. Sejak jaman revolusi, ternyata masyarakat negeri ini sudah bisa meracik sendiri menggunakan campuran berbagai macam jenis bahan agar tembakau enak dan layak untuk dilinting, diisap dan diperjualbelikan demi kebutuhan ekonomi.

Pada masa revolusi, rokok juga bisa dijadikan sandaran dalam membantu keuangan di saat krisis melanda kehidupan berbangsa dan bernegara. Rokok juga menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.

Kisah ini tidak pernah disebarluaskan kepada khalayak bahwa rokok juga mengandung berbagai manfaat di masa revolusi fisik. Rokok sebagai penopang ekonomi dan sebagai obat rekreatif bagi tentara dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Category : Artikel