Klaim Rokok Sebabkan Stunting Tidak Tepat

Komnas Pengendalian Tembakau kembali membuat klain yang tidak tepat. Bekerja sama dengan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, mereka membuat klaim jika perilaku merokok akan berdampak pada kualitas hidup dan perkembangan balita. Terutama, untuk mereka yang berada dalam kategori keluarga miskin.

Dalam klaimnya, mereka menyatakan jika perilaku merokok masyarakat ikut memicu tingginya angka stunting (pertumbuhan tidak normal pada balita). Katanya, karena rokok mengubah pola konsumsi keluarga, yang harusnya dibelikan makanan bernustrisi jadi dibelikan rokok.

Hal ini sekilas terlihat meyakinkan, padahal tidak begitu keadaannya. Bagi banyak keluarga miskin, membeli makanan adalah prioritas utama. Termasuk bagi keluarga miskin yang kepala keluarganya merokok. Tanpa terkecuali.

Bahwa ada slot anggaran yang dibelikan rokok, itu semata sebagai saranan penyegaran pikiran kepala keluarga agar mereka tetap semangat dan giat dalam mencari penghasilan. Namun, hal ini tidak membuat slot anggaran untuk membeli makanan jadi dialihkan pada urusan rokok. Keduanya memiliki slot anggaran yang berbeda, dan keduanya diperlukan untuk kelangsungan keluarga.

Perlu diketahui bahwa rokok adalah sebuah sarana rekreatif paling sederhana dan murah yang bisa didapatkan kepala keluarga miskin. Mereka yang dipaksa kerja melulu, mengeluarkan tenaga dan pikiran, dikuras keringatnya, hanya bisa mencari sedikit kesenangan agar tetap semangat mencari nafkah melalui rokok. Apabila hal ini harus dirampas lagi, lantas dengan apa mereka harus menyegarkan diri? Atau mungkin, orang miskin memang tidak punya hak rekreatif dalam hidupnya?

Karena itu, dorongan menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya hanya akan membuat keluarga miskin itu makin sengsara. Sudah habis tenaga dan keringat, dirampas juga  hak untuk sedikit bersenang-senang. Kalau kemudan hak rekreatif dirampas, dan semangat kerja mereka jatuh, siapa lagi yang mau mengurusi penghidupan mereka?

Satu lagi, hal yang membuat balita kekurangan gizi itu bukanlah rokok, tetapi adalah kemiskinan. Tanpa kehadiran rokok pun, kasus stunting dan balita kekurangan gizi masih terjadi. Dan kemiskinan itu bukan disebabkan oleh rokok, tetapi ketidakmampuan negara memberikan lapangan pekerjaaan dan penghasilan yang layak bagi masyarakat.

Category : Artikel
Tags :