orang merokok

Membandingkan Fasilitas Merokok di Stasiun Indonesia dan Jepang

Membandingkan fasilitas merokok di lingkungan stasiun ataupun di dalam kereta antara Indonesia dan Jepang rasanya memang bagai membandingkan bumi dan langit. Ini tentu bukan bualan, sebab memang kenyataannya demikian.

Di jepang, merokok menjadi aktivitas yang sangat ketat lagi terbatas. Rokok dijual dengan sangat mahal. Namun, pembatasan itu toh tetap diimbangi dengan fasilitas yang memadahi bagi kaum perokok.

rokok

Sedangkan di Indonesia, sebagai salah satu negara perokok sekaligus negara yang masyarakatnya banyak bergantung pada industri rokok, fasilitas merokoknya justru tak sememadahi Jepang. Padahal, sama seperti Jepang, Indonesia juga menerapkan aturan Kawasan tanpa rokok di berbagai tempat publik.

Salah satu contoh yang paling nyata boleh jadi adalah fasilitas merokok di area stasiun kereta atau bahkan di dalam kereta itu sendiri.

ruang merokok

Di jepang, hampir setiap stasiun menyediakan smooking room yang memadahi di beberapa sudut strategis stasiun. Begitupun dengan ruang merokok di dalam kereta. Hampir selalu ada gerbong khusus untuk para perokok. Di kereta api peluncur Shikansen, misalnya. Kereta api super cepat yang dioperasikan oleh Japan Railways Group itu selalu menyediakan satu gerbong (Gerbong no 15) yang disediakan khusus untuk para perokok.

gerbong merokok

Berbanding terbalik dengan Indonesia. Banyak stasiun yang belum menyediakan ruang khusus merokok. Kalaupun ada, biasanya tempatnya sempit dan berada di pojokan, yang kadang susah terjangkau.

Sedangkan di dalam kereta, Indonesia masih jauh panggang dari api. KAI sampai saat ini belum menyediakan ruangan untuk merokok.

bungkus rokok

Hal ini tentu saja sangat disayangkan, sebab jika mengacu pada putusan MK Nomor 57/PUU-IX/2011, setiap ruang publik, termasuk stasiun harusnya menyediakan ruang untuk perokok.

Yah, agaknya kita memang masih kalah jauh dengan Jepang.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto