Orang Merokok (1)

Mencicipi Tembakau Kemloko Temanggung

Rumah Mujiono (48), cukup besar dan terlihat nyaman. Sedang banyak orang merokok di sana. Walaupun bentuk bangunannya sama dengan rumah-rumah di perkotaan tapi rumah-rumah di lereng Sumbing berjajar landai. Di sela-sela rumah terdapat tempat untuk menyemai benih tembakau berupa anyaman bambu selebar sekira 60 senti dan panjangnya bisa mencapai 5 meteran yang ditelungkupi plastik. Warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung, memang berprofesi sebagai petani tembakau. Dusun ini hampir sama dengan pertanian tembakau lainnya seperti Dusun Wonosari dan Dusun Nglamuk, yang letaknya di sebelah timur dari Dusun Cepit, yakni penghasil tembakau jenis Kemloko berkualitas baik. Bahkan penghasil tembakau Srinthil. Dan dusun ini setiap hari selalu berselimut kabut.

Mujiono mempunyai tanah setengah hektar. Letaknya di lereng Sumbing bagian tengah. Sebelum musim tanam tembakau Mujiono dan petani tembakau lainnya bertanam bawang merah dan bawang putih. Awal musim tanam tembakau di Dusun Cepit pada pertengahan bulan April. Itu sebabnya benih-benih disemai terlebih dahulu sejak bulan lalu agar pada saatnya tanam sudah agak tinggi sekira sejengkal dan siap menghadapi cuaca pegunungan yang dingin.

Malam ini saya dan beberapa teman bertamu di rumah seorang petani tembakau. Menginap di rumah seorang petani tembakau di lereng gunung Sumbing yang dingin merupakan sebuah pengalaman yang mengesankan. Utamanya tentu saja tentang mencicip jenis-jenis tembakau. Di meja tamu terdapat seteko teh hangat dan beberapa toples berisi kacang tanah goreng, kue kering, dan tentu saja dua toples berisi tembakau hasil panen Mujiono. Di dalam toples itu berisi tembakau jenis Kemloko 1 dan toples satunya berisi tembakau Kemloko 2.

Orang Merokok (3)
Orang Merokok (3)

Pertama saya mengeluarkan kretek Djarum 76 yang saya bawa sebagai bekal. Meletakannya di atas meja. Ternyata di atas meja sudah ada juga kretek 76 milik pak Mujiono. Setelah ditawari oleh pak Mujiono lalu saya mencoba tembakau jenis Kemloko 2. Rajangannya kasar dan agak besar. Saya melinting tembakau itu. Murni tanpa campuran. Pertama diisap, rasanya agak berat tapi tidak seberapa nyegrak. Sambil sesekali meneguk teh manis hangat tembakau ini berhasil saya habiskan satu linting. Nikmat walau agak berat. After taste-nya agak gurih, pedas dan pahit. Ada rasa manis tapi bukan dari tembakaunya melainkan dari kertas lintingnya yang beraroma manis.

Pak Mujiono sang tuan rumah malah mengisap Djarum 76. Warga Dusun Cepit memang terlihat sangat menyukai kretek legendaris ini. Saya mengetahuinya setelah hari kedua tinggal di Dusun ini, saat bertemu dengan beberapa warga dusun lainnya. Bahkan adik pak Mujiono yang kebetulan juga datang menginap pun ududnya kretek 76.

“Wah, kretek kita sama, pak,” kata saya.

“Iya, mas, buat selingan. Rata-rata warga sini senang dengan 76.” Jawabnya.

Kami ngobrol lama tentang banyak hal bersama pak Mujiono hingga larut. Berbatang-batang kretek 76 sudah menumpuk di asbak. Lalu saya mencoba tembakau Kemloko 1.

“Ini lebih marem, Mas,” kata pak Mujiono.

Saya lantas membuka toples. Warnanya lebih gelap dari tembakau Kemloko 2. Agak lebih lengket dan pekat. Rajangannya sama, agak kasar dan menggumpal. Sebagai orang yang tidak terbiasa melinting agak susah juga melinting tembakau rajangan kasar. Sama seperti Kemloko 2, saya mencoba kemloko 1 juga tanpa campuran. Murni. Saat lintingan jadi dan saya nyalakan, sekali isap langsung nyegrak dan terbatuk. Semua orang yang ada di ruang tamu pak Mujiono tertawa terbahak-bahak.

“Marem, kan,” goda pak Mujiono.

Saya hanya mampu bertahan 4 isapan itu pun saya paksa untuk mengetahui seberapa kuat saya terhadap asap yang dihasilkan oleh Kemloko 1. Rasanya nyegrak dan membuat tenggorokan langsung terbatuk. Agak pahit dan ada rasa pedas yang khas tembakau. Jika kau seorang penikmat kretek atau tembakau linting pasti sudah pernah merasakan pedas yang saya maksud. Di lidah pekat membuat seseorang yang mengisapnya segera meraih gelas untuk minum seteguk dua teguk air. Apapun jenis airnya, putih, teh hangat atau kopi.

“Ini memang tembakau lauk kalua buat pabrikan,” kata pak Mujiono. Tapi warga Dusun Cepit sudah terbiasa mengisap tembakau jenis ini sehingga tak membuatnya terbatuk. Sebagai selingan tentu saja saya segera meraih Djarum 76 yang agak ringan, sepat dan gurih. Saya menyerah terhadap tembakau Kemloko 1. Hanya mampu bertahan 4 isapan.

Tak lama kemudian pak Mujiono segera masuk dan keluar kamar membawa sekarung goni berisi beberapa bungkus tembakau dalam plastik

Orang Merokok (2)
Orang Merokok (2)

“Ini Srinthil,” kata Pak Mujiono, “Jajal, Mas.”

Saya minum teh manis hangat dulu untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan. Ibu Sri Rahayu (43), istri pak Mujiono, keluar dapur membawa kopi hangat. Waktu masih pukul 21.00 lewat seperempatan.

“Ini kopi produk sendiri, Mas,” katanya sambil meletakkan beberapa gelas buat saya. Arabika. Wah, sebuah kejutan. Ternyata, selain bertanam tembakau, beberapa warga Dusun Cepit juga bertanam kopi jenis arabika.

Saya mencicip tembakau Srinthil yang tadi dikeluarkan oleh Pak Mujiono. Rasanya lebih pekat dan lebih nendang. Tentu saja pengalaman terhadap tembakau Kemloko 1 membuat saya agak hati-hati dalam mengisap tembakau Srinthil. Saya mengisap pelan. Tidak nyegrak. Juga tidak batuk. Nikmat. Segelas arabika dan selinting tembakau Srinthil menemani obrolan kami hingga lewat tengah malam dalam hawa dingin lereng Sumbing.

Harga tembakau Kemloko pada musim panen lalu 100 ribu per kilogram. Ada juga yang harganya mencapai 120 ribu. Saya mendapat pengalaman berharga menikmati tembakau langsung di tempat asalnya yakni Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung. Merasakan tembakau lauk, murni tanpa campuran.

Category : Artikel