rokok

Mengukur Dampak Kerugian Dari Rokok Ilegal

Sudah beberapa bulan ini tercatat puluhan jutaan batang rokok illegal ditemukan di berbagai daerah. Setelah kemarin di Tangerang, baru-baru ini Bea Cukai menangkap peredaran rokok ilegal bernilai milyaran rupiah di Semarang. Tentu temuan ini makin membuat kita khawatir dengan apabila nantinya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 sudah benar-benar berlaku.

Saya akan coba mengajak kalian untuk mengukur seberapa merugikannya sih rokok ilegal ini. Pertama, bagi pabrikan kecil. Keberadaan rokok ilegal jelas menyiksa mereka  yang ada dan masih taat pada aturan cukai. Sudah mah mereka harus terseok-seok dengan modal yang sedikit, bersaing dengan pabrikan besar, lalu kemudian adanya rokok ilegal adalah siksaan pelengkap mereka menuju kemungkinan gulung tikar. Keadaan tersebut hanya akan makin menambah panjang daftar pabrikan rokok yang tutup selama beberapa tahun kebelakang, dimana angkanya sudah menyentuh seribu lebih.

Kemudian, bagi negara. Tak bisa kita pungkiri bahwa sebetulnya negara berharap betul pemasukan dari industri ini. Bahkan, secara terang-terangan, Kemenkeu mengakui pemasukan dari industri ini digunakan sebagai penambal defisit anggaran BPJS. Apabila keadaan nantinya rokok ilegal ini makin marak atau justru laku di pasaran, ini akan mengakibatkan target penerimaan negara tak tercapai. Kalau sudah begitu, inflasi tinggi jadi hal yang sudah pasti kita hadapi.

Bagi petani, rokok ilegal semakin menambah ketakutan mereka bila nantinya panen mereka tak terserap. Tembakau rokok ilegal ini belum jelas asal-usulnya. Dan kalau dilihat dari kualitas, tembakaunya sangat jauh dari standar. Besar kemungkinan tembakaunya merupakan hasil sisa yang tak laku dipasaran atau tak terserap oleh industri besar yang punya standar tinggi.

Kalau nantinya rokok ilegal ini tak terbendung, atau yang lebih parahnya ketika masyarakat lebih memilih mengonsumsi rokok ilegal, ini akan mempengaruhi stabilitas industri. Pabrikan besar akan menurunkan jumlah produksi karena permintaan pasar menurun. Kalau sudah begitu, sudah pasti kuota resapan pabrik berkurang. Lantas, panen jadi tak terserap. Padahal penjualan tembakau sampai saat ini masih pengandalkan dari industri rokok.

Beleid tentang harga cukai memang merepotkan banyak pihak. Semua kena getahnya. Tapi, disinilah kebijaksanaan kita sebagai perokok diuji. Harga rokok yang kian mahal memang menyebalkan, namun beralih ke rokok ilegal dengan iming-iming harga yang murah bukanlah langkah bijak.Ya, sebab kalau kita memilih langkah demikian, sama saja kita terlibat secara tak langsung menyengsarakan para petani. Semakin membuat petani merasa jauh dari kata sejahtera.

Category : Artikel
Tags :