Merokok di Saat Aksi itu Hal yang Menenangkan

Turun ke jalan untuk berdemonstrasi menuntut tanggung jawab pemerintah bukanlah suatu tindak kebodohan. Demonstrasi merupakan sikap politik yang mengisyaratkan keberpihakan kita. Sama halnya dengan merokok. Merokok adalah satu sikap politik yang dilakukan dengan segenap tanggung jawab.

Namun sikap itu belum tentu dianggap baik bagi sebagian masyarakat. Aksi massa kadang dianggap sebagai tindakan yang mengancam kenyamanan pengguna jalan. Masyarakat yang memiliki pandangan ini menginginkan aksi massa yang tertib dan tidak menimbulkan keresahan. Faktanya memang sulit, semua peserta aksi bukan tidak tahu bagaimana bersikap tertib dan menghargai hak masyarakat lain.

Dalam berbagai aksi yang juga saya terlibat di dalamnya. Saya dan teman-teman tetap berusaha untuk menghargai hak masyarakat lainnya. Namun ketika luapan massa sudah tidak terkendali, suara protes menjadi kegaduhan yang tak terbendung. Ya bagi saya itu satu konsekuensi hidup di negeri berdemokrasi. Intinya, demonstran juga memiliki kesadaran akan hal itu.

Biasanya pula saat aksi berlangsung, saat teman-teman secara bergiliran menyampaikan orasinya. Lantas ketika itu mulut saya mulai terasa asem.  Tak perlu heran kalau saya akan memilih keluar dari lingkar keramaian sejenak. Beberapa teman lain sudah bisa menebak, kalau saya akan mencari tempat untuk merokok. Salah satu spot pavorit saya untuk merokok ya di sekitar penjual jajanan. Tidak lupa saya akan menyiapkan asbak yang bisa saya dapat dari gelas air kemasan.

Aksi unjuk rasa tentulah kegiatan yang cukup menyita energi. Apalagi itu harus dilakukan seharian. Namanya juga berjuang, kondisi lelah itu hal biasa yang tak perlu dikeluhkan. Maka wajar jika rokok menjadi sarana pelepas lelah yang praktis dan cukup masuk akal. Bila ada teman yang melihat saya sedang asik merokok di luar keramaian, lantas merasa terhasut untuk melakukan hal serupa.  Bagi saya itu suatu hal yang juga lumrah. Rokok menjadi sarana yang mampu menenangkan diri.

Misalnya seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika aksi menuntut revisi RKUHP di Jogja. Melalui timeline twitter saya mengikuti perkembangan aksi tersebut. Ada satu postingan foto yang menampakkan aktivitas merokok seorang mahasiswi di kala aksi masih berlangsung. Persis seperti yang biasa saya lakukan, duduk di aspal jalanan berada tak jauh di luar sesaknya massa.

Mahasiswi itu tidak merokok sendirian, ada beberapa temannya yang melakukan hal serupa. Suasana rileks semacam itu cukup membuat saya senyum-senyum sendiri. Tersenyum karena menangkap ekspresi kebahagiaan kecil di wajah mahasiswi itu, di tengah ramainya gelombang massa demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah, lantaran pemerintah tak segera mengamini tuntutan massa.

Tak perlu heran, jika ada beberapa demonstran memilih untuk rehat dan sebats sejenak. Melihat postingan itu saya jadi teringat kebiasaan saya sendiri jika sudah merasa asem dan capek di sela-sela aksi, ya merokok.

Di saat seperti itu kita sebagai perokok juga tetap berusaha berlaku tertib, menjaga kesadaran akan kebersihan lingkungan. Karena biar bagaimanapun, aktivitas merokok kita bakal menyisakan puntung yang tidak boleh disembarangkan. Untuk itu, dengan modal asbak ala kadarnya saya biasanya membuang abu rokok dan puntung ke dalam asbak. Setelahnya barulah dibuang ke tong sampah. Paling tidak, sikap ini dapat mengurangi beban petugas kebersihan. Naif saja, jika kita ingin hak kita dipenuhi tetapi kita sendiri tidak menghargai hak orang lain. Dan perokok santun cukup paham akan sikap politik semacam ini. Terus berjuang teman-teman, panjang umur perjuangan!

Category : Artikel
Tags :