Orang Merokok

ORANG MEROKOK DAN KEBAHAGIAAN

Suatu hari di bulan April yang basah, Susan pulang ke kampung halamannya dari kota, tempatnya menempuh pendidikan. Ia dengan gaya menyerupai wajah-wajah di televisi tampak tak mau mendekat kepada ayahnya, sebab ayahnya adalah orang merokok. Asap rokok yang dikeluarkan oleh ayahnya dianggapnya akan memberi dampak buruk pula bagi tubuhnya.

Orang Merokok
Ilustrasi Orang Merokok

Karenanya, ia memberi nasihat kepada ayahnya untuk berhenti merokok. Tetapi, sang ayah sama sekali merasa aneh dengan sikap anaknya itu. Menurutnya, sekolah membuat banyak nilai-nilai dalam diri anaknya berubah. Susan tak hanya tak suka dia merokok. Tetapi juga tak mau makan makanan kampung yang terbiasa dipanen dari halaman rumahnya. Makanan tersebut dianggapnya tidak higienis karena aneka sayuran berada di pinggir kali. Maka, dia membawa makan berbungkus siap saji yang dibawanya dari kota.

Rokok
Rokok

Setelah berdebat panjang, dengan sedikit membentak Susan meminta agar ayahnya lebih rajin menjaga kesehatan. “Rokok akan membuat tubuhnya mudah terserang penyakit, orang merokok itu tidak sehat” kata Susan kepada ayahnya.

Orang Merokok
Ilustrasi Orang Merokok

Sang ayah, dengan santainya, memberi jawaban, “Oh, tidak, kamu memintaku untuk menjaga kesehatan. Mungkin benar, tetapi kenapa tidak kau minta aku menjaga kebahagiaan dengan menikmati hari-hari tua dengan sesuatu yang kusukai, nduk?” katanya. Sang ayah melanjutkan, “Sebab rokok menjadi salah satu sumber kebahagiaanku. Bukankah orang tidak bahagia, selalu dihantui oleh rasa khawatir berlebih, yang justru mudah koyak oleh penyakit?”

Foto oleh : Eko Susanto

Category : Artikel