Pembelian Tembakau Iris Meningkat, Rokok Tingwe Memang Solusi Rakyat

Kenaikkan tarif cukai rokok untuk tahun depan masih membawa polemik. Walau banyak pihak menolaknya, tapi pemerintah seperti tutup kuping menanggapi hal tersebut. Akhirnya protes konsumen, terutama, akan berlangsung dalam bentuk paling nyata, yakni; tingwe!

Sebenarnya ada satu fakta menarik tentang tingwe yang bisa menjadi pertimbangan pemerintah dalam memutuskan suatu kebijakan. Sebuah fakta yang bisa jadi akan memukul kesombongan pemerintah selama ini. Sebuah kenyataan yang akan terus ada dan berlipat ganda.

Ya, berdasar data dari PT Indonesian Tobacco Tbk., penjualan tembakau iris yang mereka jalani tumbuh sebesar 20,19 persen pada semester pertama tahun ini. Penjualan mereka mencatat transaksi di angka Rp 79,23 miliar dan laba Rp1,08 miliar pada semester I/2019. Sebuah angka yang sangat bagus untuk bisnis tembakau di Indonesia pada beberapa tahun terakhir.

Hal ini juga menjadi fenomena, mengingat hampir semua perusahaan rokok justru mengalami penurunan penjualan bahkan sebelum tarif cukai naik tinggi tahun depan. Keberhasilan penjualan tembakau iris agaknya terjadi karena, sebelum tarif naik pun, harga rokok sudah dirasa mahal oleh sebagian masyarakat kita. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tingwe.

Tren kembali ke tingwe ini setidaknya sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai dan harga rokok yang tinggi menjadi alasan utama. Mending ribet dikit tapi bisa udud ketimbang ngga mampu beli rokok. Alasan tambahan dan yang membuatnya unik, tingkat ke-vintage-an dan keantikkan tingwe membuat orang jadi tertarik.

Sebagai catatan, pertumbuhan penjualan tembakau iris yang sudah disampai di atas itu hanya berbasis pada data sebuah perusahaan. Pada kenyataannya, masih banyak orang yang membeli tembakau di luar perusahaan tersebut. Ada juga yang langsung beli ke petani. Beberapa toko online juga telah meracik campuran tembakau dan cengkeh sendiri untuk dipasarkan di marketplace yang ada.

Hal ini, tentu saja, bakal menjadi semakin besar di tahun depan. Harga rokok yang naik hingga 35% bakal membuat orang tidak banyak pikir untuk memilih tingwe. Karena dengan tingwe, mereka bisa menghemat anggaran belanja rokok hingga 50% dari kondisi sekarang. Kalau sudah begini, kebijakan negara untuk mendapatkan sumber dana segar justru berbalik merugikan mereka sendiri.

Gimana, sudah kapok belum, negara?

Category : Artikel
Tags :