perokok

Pengamat Ekonomi: Harga Rokok Naik Bukan Solusi Turunkan Jumlah Perokok

Pemerintah menaikkan tarif cukai rokok untuk tahun 2020 di kisaran 23%. Hal ini kemudian berdampak pada kenaikan harga jual rokok yang berada di kisaran 35%. Sebagai dalih, pemerintah menyatakan kalau alasan utama kenaikan ini guna menurunkan jumlah perokok dan prevalensi perokok di bawah umur.

Alasan ini, menurut pengamat ekonomi Universitas Tadulako (Untad), Dr Achlis, tidak bakal menjadi solusi atas harapan pemerintah tersebut. Baginya, harga rokok naik tidak akan mengurangi jumlah perokok. Jika memang negara mau mengurangi jumlah perokok, maka hal yang harus dilakukan adalah menegakkan aturan kawasan tanpa rokok dengan tegas.

Hal ini sebenarnya sudah berulang kali ditegaskan oleh Roki, bahwa naiknya harga rokok tidak bakal berdampak signifikan untuk menurunkan jumlah perokok. Ya mungkin akan ada yang berhenti, atau malah jumlahnya turun. Namun, sekali lagi, jumlahnya tidak akan signifikan.

Satu-satunya cara agar prevalensi perokok di bawah umur bisa berkurang ya penegakkan aturan tentang KTR. Aturan main jual rokok tinggal dijalankan dengan tegas. Orang di bawah usia 18 tahun tak boleh beli rokok. Kalau perlu ya nanti tinggal dibuktikan dengan kartu identitas dari si pembeli.

Sepanjang aturan ditegakkan, mereka yang di bawah umur ya tidak bisa membeli. Kalau tidak bisa membeli ya tidak akan bisa merokok. Kalau tidak merokok, ya kan tidak ada yang namanya perokok di bawah umur. Begitu saja kan.

Jika kemudian yang dimaksud pemerintah untuk mengurangi jumlah perokok adalah perokok umum dan dewasa, ya perkaranya juga mudah. Selama rokok masih bisa dibeli juga dijual, selama itu perokok akan ada. Artinya, ya tinggal buat aturan kalau rokok tidak boleh dijual di Indonesia. Ya, tinggal diilegalkan saja produk bernama rokok itu.

Kalau memang negara mau serius mengurus dan fokus pada urusan kesehatan rakyat belaka, dalam perkara rokok ini, ya pilihannya adalah upaya membuat rokok menjadi ilegal. Sama sekali tidak boleh diproduksi dan tidak boleh diperdagangkan. Kalau tidak dibuat ilegal, ya jumlah perokok tidak bakal pernah turun (signifikan).

Perkara nanti pendapatan negara berkurang dan penghidupan jutaan rakyat menjadi hilang, ya itu urusan pemerintah lah. Masa kita sudah tidak boleh merokok masih disuruh memikirkan hal itu. Males amat dah.

Category : Artikel
Tags :