orang merokok

Pengamat Sosial: Somasi Buat Produsen Rokok Somasi Aneh

Rohayani, seorang yang 18 tahun lalu telah berhenti merokok, tiba-tiba membuat gempar karena melayangkan somasi kepada kedua perusahaan rokok PT Gudang Garam, Tbk dan PT Djarum pada 19 Februari lalu.

bungkus rokok

Ia mengaku sebagai konsumen rokok yang mengonsumsi dua merek dagang tersebut sejak 1975 hingga 2000. Karena merasa kecanduan dan belakangan paru-parunya terasa sakit, ia akhirnya melayangkan somasi menuntut ganti rugi kepada Gudang Garam sebesar Rp178,074,000 dan Djarum sebesar Rp293,068,000.

Angka tersebut adalah jumlah uang yang ia habiskan untuk membeli rokok dari dua pabrik tersebut. Selain itu, ia juga meminta santunan masing-masing senilai Rp500 miliar kepada kedua produsen rokok tersebut.

bungkus rokok

Didampingi oleh pengacara kondang Todung Mulya Lubis dan Azas Tigor Nainggolan, ia melayangkan tuntutan mencapai Rp1 triliun kepada kedua perusahaan rokok tersebut dan mengancam akan membawa kasus tersebut bila tuntutan ini tidak dipenuhi.

Mengenai hal ini, pengamat sosial Suhardi di Jakarta berpendapat bahwa, “somasi tersebut aneh karena hubungan dia dengan perusahaan rokok itu kan jual beli. Karena itu sebaiknya somasi tersebut tidak perlu dilayani,” katanya seperti dikutip Kompas Minggu (11/3/2018).

Suhardi berargumentasi, jika kedua produsen rokok tersebut sampai melayani somasi semacam itu, akan menjadi preseden buruk. Bukan mustahil, hal itu mendorong 90 juta perokok lain di Indonesia melakukan hal yang sama. Somasi tersebut juga menjadi preseden buruk bagi pelaku industri rokok, makanan, dan minuman.

Sebagai peneliti yang pernah melakukan penelitian tentang konsumsi tembakau di Indonesia, Suhardi menjelaskan ‘kecanduan’ yang diutarakan oleh Rohayani merupakan hal lumrah. Dampak seperti itu juga terjadi pada konsumen produk lain seperti kopi, teh, atau gula.

rokok

“Kalau kemudian ada konsumen terkena diabetes, apakah wajar dia malayangkan somasi ke pabrik kopi atau pabrik gula?”

Suhardi menambahkan, setiap perokok memiliki kemerdekaan untuk menghentikan kebiasaan merokok, juga mengganti jenis dan merek dagang rokok yang dikonsumsi. Karena hubungannya sebagai perokok dan produsen adalah hubungan dagang biasa. Tidak ada unsur paksaan.

“Jadi keputusan sepenuhnya ada di tangan konsumen sendiri. Faktanya, banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok atau tidak merokok lagi,” terangnya.

Di sisi lain, pendapat Rohayani yang mengatakan sakitnya akibat rokok adalah pandangan subyektif. Dikarenakan ia punya kebiasaan merokok sejak usia 7 tahun dan kemudian merasa sakit, ia kemudian berpendapat penyakitnya diakibatkan dari kebiasaan terdahulu.