orang merokok

Penurunan Jumlah Pabrik Rokok dan Perhitungan Pendapatan Negara

Pemerintah mesti hati-hati dalam mengambil kebijakan meningkatkan kenaikan tarif cukai rokok. Apalagi kenaikan cukai yang nyaris terjadi setiap tahunnya telah memberikan pukulan telak bagi industri rokok di tanah air.

rokok

Data Bea Cukai menyebutkan, imbas dari kenaikan cukai membuat jumlah pabrik rokok kian menyusut. Bila pada 2007 terdapat sejumlah 4,669 pabrik, pada 2016 lalu hanya tersisa 754 pabrik saja.

Ketika jumlah pabrik rokok berkurang, itu artinya ada sejumlah penduduk Indonesia yang kehilangan pekerjaan. Bila diambil permisalan satu pabrik mempekerjakan 25 orang saja, artinya sudah ada 97,875 orang yang kehilangan pekerjaan selama 9 tahun terakhir.

orang merokok

Bertambahnya jumlah pengangguran akibat tutupnya sejumlah pabrik rokok ini tentu perlu dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan keuangan negara. Sebab, dengan semakin bertambahnya jumlah pengangguran, maka akan membuat beban negara dalam membuka kesempatan pekerjaan dan memberikan subsidi kepada rakyat akan semakin besar.

rokok

Pemerintah selama ini hanya beranggapan bahwa peningkatan tarif cukai adalah cara yang bagus untuk meningkatkan pendapatan. Tekanan dari kelompok anti tembakau yang mengehendaki kenaikan harga rokok setinggi-tingginya seolah juga menjadi pembenaran atas keputusan menaikkan tarif cukai ini tanpa mempertimbangkan faktor penyerapan tenaga kerja di industri rokok.

Padahal keberadaan industri rokok di tanah air yang banyak melibatkan tenaga kerja, baik itu di pabrik, perkebunan tembakau dan cengkeh, dan industri terkait lainnya, perlu dipandang sebagai potensi yang harus dijaga.

pekerja tembakau

petani tembakau

Dari segi keuangan negara, nilai tambah yang diterima rakyat yang bekerja di sektor ini patut juga dipandang sebagai pendapatan negara yang penerimaannya tidak masuk dalam APBN tetapi diterima langsung oleh warga negara.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Category : Artikel