Pernyataan Kontroversial Guru Besar FKM UI tentang Kepala Daerah Pro Rokok

Ada yang menggelitik, jelang Pilkada serentak pada 27 Juni lalu. Seorang Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, membuat pernyataan politis cukup keras. Begini pernyataannya: “Jangan pilih kepala daerah yang pro rokok dan didukung industri rokok. Rakyat sudah kayak begini, IQ rendah, tidak mampu bersaing, jangka panjang akan rusak, hanya demi kepentingan satu term.”

  orang merokok penjual rokok

Pernyataan beliau ini dikeluarkannya saat Temu Media di Four Points, Sheraton, MH. Thamrin, Jakarta Pusat, 25 Juni lalu. Pernyataan beliau ditujukan pada masyarakat yang akan mengikuti Pilkada serentak di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Utara. Daerah-daerah penghasil tembakau terbaik di Indonesia.

Kalau kita coba lihat secara seksama, pernyataan keras tersebut sedikit banyak menyakiti hati dan perasaan para petani tembakau. Belum lagi para buruh, pekerja sektor pertembakauan. Pernyataan yang tidak layak bagi seorang yang berlabel Guru Besar. Patut dicurigai, berbasis ilmu dan status sebagai Guru Besar di fakultas Kesehatan Masyarakat, pernyataan Professor Hasbullah itu bernada membela kelompok Anti-Rokok. Sebagai Guru Besar, harusnya Prof Hasbullah tidak ikut campur di dalam urusan politis, apa lagi menyoal Pilkada.

rokok

Pernyataan keras soal tidak perlu memilih pemimpin pro rokok itu kemudian dijelaskan alasannya. Prof Hasbullah berpendapat, jika pemimpin pro rokok dipilih, kebijakan-kebijakan pengendalian tembakau, aturan Kawasan Tanpa Rokok, segala hal tentang pembatasan rokok akan dihapuskan.

rokok

Industri rokok akan didukung terus untuk memproduksi rokok dalam jumlah sebanyak-banyaknya dengan kemudahan aturan kebijakan pemimpin pro rokok tersebut. Pola pikir dan ketakutan yang tak perlu, serta terlalu berlebihan. Prof Hasbullah harusnya bisa melihat bahwasanya aturan tentang rokok sudah diatur oleh Pemerintah Pusat melalui PP 109/2012, dan diawasi secara ketat oleh Negara dan konstitusi dalam UU soal cukai.

orang merokok

Pernyataan Guru Besar FKM harusnya bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak. Misalnya memberikan informasi hasil riset penelitian soal hal-hal yang penting bagi kesehatan masyarakat. Tak usah ikut-ikutan hal berbau politis, pilkada, mengurusi soal kebijakan pengendalian tembakau. Tirulah Dr. Gretha Zahar, yang dengan rendah hati mengaplikasikan ilmunya langsung ke masyarakat dengan Klinik Balur dan Divine Kretek.