tembakau

Ragam Persentuhan Masyarakat Bali dengan Tembakau

Awal mula pertautan masyarakat bali dengan tembakau mulanya adalah dari pertautan dagang antara kerajaan dan para pedagang dari Eropa. Kala itu, tembakau dipakai menjadi komoditas tukar selain candu dan senjata. Perkenalan tersebut lembat laun membawa lingkungan kerajaan untuk mengenal lebih jauh daun istimewa ini, dan pada masa setelahnya,  dengan tembakau ini semakin menyebar di masyarakat. Daun tembakau pun diterima dalam tradisi setempat.

tembakau

Tak bisa dipungkiri, tradisi setempat yang telah lekat dengan penggunaan sirih dan pinang mempermudah diterimanya daun tembakau. Sampai sekarang masih mudah ditemui orang-orang, baik lelaki dan perempuan yang menjaga tradisi pemanfaatan tembakau dalam bentuknya yang paling tua di Indonesia, yakni dengan mencampur daun tembakau dengan sirih, pinang, kapur, dan gambir, serta mengulumnya. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan saat senggang, tapi juga ketika mereka melaksanakan aktivitas harian.

Tembakau sebagai persembahan

Persembahan atau sesaji dalam tradisi manusia Bali ini dikenal sebagai canang pengraos yang bahannya terdiri dari semua bahan untuk keperluan menyirih. Sesaji ini perlu disiapkan dengan seksama. Dengan bantuan pisau, sehelai janur dipotong dengan ukuran tertentu. Potongan-potongan tersebut disatukan dengan sebilah bambu yang dirajut halus. Tak memerlukan waktu lama untuk menjadikan janur sebagai wadah dan di atasnya tersedia empat wadah mini lain.

Potongan tembakau diambil, kemudian dimasukkan ke salah satu wadah mini. Kemudian ketiga wadah lain dipergunakan sebagai tempat menampung bahan lain, sirih, pinang, kapur dan gambir. Setelah wadah telah terisi jadilah canang pengraos. Canang ini wajib hadir dalam segala jenis persembahan. Kehadiran canang pengraos merupakan sarana menyampaikan niatan tulus kepada yang disembah atau dihormati, sang pelindung, Bhatara Hyang Guru.

tembakau

Tembakau sebagai sesaji kepada leluhur

Dalam tradisi manusia Bali, dikenal ibadah yang disebut sebagai ngodalin sanggah, yakni aktivitas selamatan di sanggah mereka. Ngodalin sanggah dilaksanakan enam bulan sekali. Di saat itu mereka percaya para leluhur mereka datang menengok keturunan dan menikmati persembahan yang dihaturkan.  Masyarakat Bali memang memuja dan menghormati leluhur sebagai kekuatan yang melindungi mereka. Mereka menyebutnya Bhatara Hyang Guru, di mana Bhatara berasal dari Bahasa Sansakerta yang berarti pelindung.

Pada kesempatan ini, canang pengraos juga dipersembahkan kepada Butha Kala, dengan upacara yang disebut mecaru. Tujuannya adalah membuat keseimbangan, agar kekuatan negatif tidak mengganggu kehidupan mereka.

tembakau

Tembakau sebagai suguhan tamu

Tembakau senantiasa hadir di ruang tamu di rumah-rumah manusia Bali. Kehadiran tembakau merupakan bagian dari tradisi dan adab sopan santun. Karena itu, kerap ditemui tembakau menjadi kawan dalam berbagai pertemuan baik formal maupun informal. Memang kehadiran tembakau tidak terpisahkan dari canang pengraos dalam budaya masyarakat Bali. Selain tembakau, di meja untuk menerima tamu itu hadir pula sirih, pinang, kapur, dan gambir.

Secara spiritual kehadiran empat benda itu dipercaya dapat mempelancar pertemuan dan menhindarkan dari empat jenis ujaran yaitu berkata kasar, bohong, fitnah, dan kata-kata yang mengandung niatan jahat. Suguhan ini wajib hadir, dan bagi para tamu yang berkunjung ke sebuah rumah akan malu jika tak menikmatinya.

tembakau

Tembakau dan Upacara Kematian

Dalam Kepercayaan Hindu Bali, setiap manusia yang telah meninggal jasadnya harus dibakar dalam upacara Ngaben. Tetapi untuk melaksanakan upacara Ngaben membutuhkan biaya besar, karena itu seringkali jasad orang yang telah meninggal dikuburkan terlebih dahulu, sampai nanti ketika ngabel tiba termasuk dalam upacara ngaben massal.

Selama jasad dikuburkan, mereka yang telah meninggal masih ada di sekitar kita. Karena itu pada hari-hari tertentu, keluarganya akan datang ke kuburan membawa punjung berupa makanan dan minuman yang disukai mendiang. Suguhan ini tetap diberikan selama pelaksaan Ngaben belum terlaksana, di mana artinya roh mendiang belum dibersihkan secara spiritual.

Aktivitas ini disebut memunjung, dan suguhan yang diberikan berupa rokok, kopi, dan makanan yang disukai oleh mendiang. Selain itu, pada hari besar kepada mereka dibawakan seperangkat pakaian adat untuk dipakaikan di atas kuburannya.

tembakau

Rokok Janur

Tembakau dalam tradisi manusia Bali, tak hanya hadir dalam pertautannya dengan prosesi ibadah saja. Tetapi ada pula tembakau yang disajikan dalam bentuk rokok khas manusia Bali. Rokok ini berbahankan sama seperti rokok-rokok pada umumnya. Hanya saja, yang membedakan ialah pembungkusnya yang menggunkan bahan janur.

Untuk membuatnya, bilahan janur dipotong sepanjang empat sentimeter, lalu rajangan tembakau dimasukkan ke dalamnya dan kemudian digulung. Ini rokoknya orang Bali. Dengan berbagai merek rokok yang bermunculan, jenis rokok ini hanya menjadi pilihan oleh orang-orang tua, yang telah terbiasa dengan rokok yang dibungkus janur.

Category : Artikel
Tags : ,