orang merokok

Presiden Jokowi Salah Baca Data Kaitkan Rokok dan Kemiskinan

“Rumah tangga miskin lebih memilih belanja rokok daripada belanja makanan bergizi.”

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Jokowi dalam rapat kabinet terbatas saat membahas pertembakauan di Kantor Presiden, Selasa 14 Maret 2017.

Lebih lanjut, Jokowi menerangkan dana yang dikeluarkan oleh masyarakat miskin untuk konsumsi produk tembakau 3,2 lebih besar dari pengeluaran belanja telur dan susu.

bungkus rokok

Pernyataan itu merupakan tanggapan atas data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa pengeluaran untuk konsumsi rokok berada di urutan kedua setelah beras untuk kategori makanan. Beras menjadi konsumsi terbesar (32,72% di perdesaan dan 24,81% di perkotaan), sedangkan rokok menjadi konsumsi terbesar kedua (8,32% di perdesaan dan 10,08%) di perkotaan).

rokok

Apa yang disampaikan Jokowi tampaknya benar, tetapi perlu diketahui lebih lanjut data BPS melalui Susenas hanya dilihat dari pengeluaran rumah tangga semata. Data tersebut mengesampingkan cara-cara kreatif yang dilakukan oleh masyarakat untuk mendapatkan bahan makanan bergizi. Untuk mendapatkan telur masyarakat memang tidak masuk dalam pengeluaran karena dengan memelihara ayam mereka akan mendapatkan daging dan telur sekaligus. Fakta-fakta demikian tidak masuk dalam pengamatan BPS karena yang dilihat hanya dari segi pengeluaran. Sedangkan kita tahu, rokok dan tembakau bukankah barang yang mudah untuk diproduksi sendiri oleh masyarakat.

rokok

Di samping itu, Jokowi lupa bahwa kenaikan tarif cukai setiap tahunnya membuat harga rokok semakin melambung setiap tahunnya. Ditambah lagi dengan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pengenaan Pajak Domestik Regional Bruto (PDRB) atas produk tembakau yang baru-baru ini diterapkan. Semua kebijakan tersebut membuat harga rokok meningkat.

Sedangkan di sisi lain, pemerintah gagal untuk menyelesaikan problem dasar dari kemiskinan diantaranya mengingkatkan pendapatan warganegaranya, menyediakan lapangan pekerjaan, serta mempertahankan keadaan ekonomi yang baik agar tidak terjadi gelombang PHK.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Category : Kabar
Tags :