orang merokok

Rohayani dan Somasi Kepada Pabrik Rokok yang Salah Kaprah

Somasi yang dilayangkan Rohayani, seorang konsumen Rokok, kepada PT Gudang Garam Tbk dan PT Djarum menuai banyak tanggapan dari banyak pihak. Satu dari sekian banyak tanggapan soal insiden ini adalah tanggapan dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef). Melalui siaran persnya, Direktur Indef Enny Sri Hartanti mengatakan somasi dengan tuntutan ganti rugi mencapai Rp 1 triliun itu salah kaprah dan tidak pada tempatnya.

pabrik-rokok

Enny berpendapat bahwa seorang perokok tidak pernah dipaksa untuk merokok oleh produsen. “Produk rokok itu sendiri termasuk barang yang dikendalikan supaya tidak bebas dikonsumsi. Pengendalian dilakukan lewat cukai yang dikenakan kepada produsen rokok. Di samping itu, ada keharusan mencantumkan peringatan bahaya kesehatan dalam setiap kemasan rokok,” kata Enny seperti dikutip kompas.com.

rokok

Adanya pengendalian konsumen rokok lewat penarikan cukai menunjukkan tidak ada unsur paksaan untuk menghisap rokok. Selain itu, terhadap perokoknya sendiri juga dilakukan pengaturan, antara lain lewat ketentuan menghisap rokok hanya di ruangan tertentu.

pabrik-rokok

“Biaya pengaturan bagi perokok itu diambilkan dari cukai yang dikenakan kepada produsen rokok,” kata Enny.

rokok

Itulah sebabnya, ekonom ini berpendapat bahwa somasi yang dilayangkan Rohayani tidak tepat sasaran. Sementara di kemasan rokok juga telah diberi peringatan bahaya. “Itu risiko dia merokok. Masalah terpapar sakit akibat rokok adalah salah si perokok yang masih mau merokok padahal harga rokok dikenai cukai dan ada peringatan bahaya merokok,” katanya.