rokok budaya

Rokok dan budaya hidup di Kasepuhan Ciptagelar

Bagi warga kasepuhan Ciptagelar –walaupun kegiatan ini merupakan aktivitassehari-sehari– namun merokok tidak sekadar ekspresi kebebasan dan sikap eksistensialisme sebagaimana budaya barat.

Lebih jauh dari itu, merokok merupakan bagian dari keberlangsungan praktik dan budaya yang diwariskan secara turun-menurun oleh nenek moyang mereka. Karenanya, rokok senantiasa hadir dalam ritual budaya warga kasepuhan Ciptagelar. Juga sebagai sarana bagi warga kasepuhan untuk berkomunikasi dengan leluhur.

Merujuk tuturan “Baris kolot” yaitu para pemangku adat yang secara hierarkis berkedudukan di bawah abah, istilah rokok yang berasa; dari akronim ‘dikerok pakai batuk’, daun yang dikerok pakai bakau. Dan yang digunakan oleh warga sebagai bahan pelinting adalah daun aren.

Sementara legenda Dewi Sri yang bermaka sang “pemberi energi” dan lazimnya juga melekat pada tembakau dan kopi. Tak aneh mengonsumsi keduanya, kopi dan rokok, membuat kenyang.

Dengan baris kolot dengan praktik merokok diharapkan generasi masa kini sanggup kembali mengingat dan berkomunikasi dengan para leluhur. Fenomena asap sebagai simbol spiritualisme manusia tambak di berbagai khasanah kasepuhan. Asal yang dikeluarkan darinya representasi dan sekaligus simbol dari adanya proses transformasi bentuk, yakni perubahan dari yang kelihatan menjadi tak terlihat, dari yang material menjadi immaterial (nafas).

Gambar: eko susanto