orang merokok

Rokok dan Tradisi di Keraton Solo

Tak bisa dipungkiri bahwa Keraton Solo punya kelekatan hubungan yang cukup erat dengan rokok. Di Keraton Solo lah pertama kali diperkenalkan ‘Rokok Diko” yang ditemukan oleh Mantri Keraton Kasunanan Surakarta, Mas Ngabehi Irodiko pada tahun 1890.

kraton surakarta

Di dalam lingkungan keraton Solo, rokok hampir selalu hadir dalam acara-acara sakral kerajaan, misalnya di jumenengan atau peringatan naik tahta raja, dalam hajatan tersebut, akan selalu disediakan jamuan berupa rokok, ia menjadi barang wajib dalam pertemuan, seakan menjadi sarana pembuka komunikasi. Selain rokok, tersedia pula minuman dan camilan.

rokok

Sejak 1985, PB XII membuat aturan baru. Jumenengan tidak lagi pakai kursi dan tidak lagi ada hidangan termasuk rokok. Aturan itu dibuat agar acara berlangsung lebih sakral.

Namun, aktivitas merokok tetap diberi ruang di dalam keraton. Di area Keraton Solo merokok diberi kebebasan. Asalkan tidak boleh sambil jalan. Aturan tersebut memang tidak tertulis (paugeran). “Tidak sopan kalau merokok sambil jalan,” KGPH Puger, Pelaksana Tugas (Plt) PB XIII Hangabehi.

bungkus rokok

rokok

Selain dikonsumsi, rokok juga menjadi sesaji di beberapa tempat di keraton. Di Sasana Wilapa misalnya, setiap Kamis dan Selasa Kliwon disajikan sesaji berupa rokok cerutu, bunga, teh, kopi, dan air putih.

Rokok jenis cerutu itu disajikan karena konon menjadi kesukaan makhluk tak kasat mata di Sasana Wilapa.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto