rokok indonesia

Menyokong industri rokok Indonesia

Peningkatan tarif cukai hasil tembakau terjadi setiap tahun membuat produksi rokok mengalami penurunan.

Ismanu Soemiran, Ketua Gabungan Perserikatan Gabungan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), penurunan produksi terlihat pada periode Januari-Mei 2015. Padahal, pada periode yang sama tahun 2014 pemesanan pita cukai periode yang sama tahun lalu mencapai 147,8 miliar batang. Sedangkan pada tahun 2015 hanya tercatat 129,3 miliar batang.

“Turun 12,5 persen ketimbang periode yang sama 2014,” kata Ismanu.

Turunnya tingkat produksi secara otomatis memberi pengaruh pada penurunan pendapatan negara dari cukai dan pajak daerah. Terlebih keadaan ekonomi nasional sedang melambat. Dan, di samping itu kampanye antirokok juga ikut mempersempit industri rokok Indonesia.

Padahal ini merupakan industri nasional padat karya, yang menyerap tenaga kerja. Sehingga, Ismanu mengambil kesimpulan, jika kondisi penjuaan rokok di Indonesia turun terus, maka akan ada ancaman pemutusan kerja (PHK) di industri rokok.

Di situasi pelambatan ekonomi semacam sekarang, perekonomian nasional butuh mendukung industri yang menyerap tenaga kerja, menyerap bahan laku lokal, dan memberi kontribusi besar bagi pendapatan negara. Dengan begitu roda ekonomi bisa berputar dengan lebih mantap.

“Melihat penurunan produksi yang lesu, pemerintah seharusnya tidak memojokkan industri rokok. Alasannya, industri rokok telah memberi kontribusi positif terhadap pendapatan negara,” katanya.

Gambar: Eko Susanto