Rokok

“Rokok Istana”: Penobatan Ratu Hingga Pelantikan Menteri

Rokok di Istana, bukan lah barang baru. Bahkan dalam beberapa masa kepresidenan di Indonesia, masih disediakan rokok tanpa merk (khusus) yang bungkusnya hanya menyertakan label Istana Presiden. Konon rokok itu dibagikan pada tamu Istana yang mau merokok, bahkan menjadi buah tangan untuk dibawa pulang. Di era Soekarno, Soeharto, Gus Dur, dan Megawati rokok bebas di istana.

Beberapa hari terakhir, ramai kabar seputar menteri Kabinet Kerja yang sedang merokok di istana. Mereka yang menyulut rokok, sekaligus mencairkan suasana formal dalam pelantikan dan pengumuman menteri itu adalah: Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan), Hanif Dhakiri (Menakertrans), Marwan Jafar  (Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi).

Di luar itu, mari mengenang aksi Haji Agus Salim yang mengebas-ngebuskan asap rokok kretek-nya di Istana Buckingham, pada momen penobatan Ratu Elizabeth II –bukan sekadar pelantikan/pengumuman menteri. Pada tahun 1953, di acara penobatan Ratu elizabeth II, Haji Agus Salim mewakili pemerintah Indonesia. Dalam acara itu, pria berjuluk The Old Man itu melihat Pangeran Philip (32 tahun, ketika itu) agak canggung menghadapi khalayak ramai yang hadir, masih tak terbiasa menempatkan diri sekadar sebagai “pasangan” Ratu.

Demikian canggung sehingga lalai meladeni tamu-tamu asing yang datang dari jauh menghormati peristiwa penobatan. Guna sekadar melepas ketegangan sang Pangeran, Haji Agus Salim menghampirinya seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya sekitar hidung sang pangeran itu sambil bertanya.

“Paduka (Your Highness), adakah Paduka mengenali aroma (bau) rokok ini?” Dengan menghirup-hirup secara ragu-ragu sang Pangeran mengakui tidak mengenal aroma rokok tersebut. Agus Salim pun mengatakan: “Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya”. Sang Pangeran pun tersenyum dan dengan lebih luwes bergerak dan “meladeni” tamu-tamunya dari jauh.

Demikianlah rokok di Istana: bisa mencairkan suasana formal dalam upacara dan momen protokoler. Agaknya itu juga alasan beberapa menteri Kabinet Kerja, yang menyulut rokok di Istana, mereka ingin mencairkan suasana, memberi jeda pada seremoni.

Rokok
Rokok