tembakau

Rokok Pribumi dan Sejarah Pertembakuan Indonesia

Banyak versi soal penamaan kata tembakau, secara linguistik, kata tembakau kemungkinan berasal dari kata “tabaco” (Portugis dan Spanyol). Bila dirujuk lebih lanjut kata itu berasal dari bahasa Arawakan, khususnya bahasa Taino di Karibia. Versi yang lain mengatakan tembakau berasal dari bahasa Arab, “tabago” atau “tabbaq”.

daun tembakau

Merujuk pada catatan sejarah. Tembakau diperkirakan telah ada di Indonesia sekitar tahun 1600-an, hal ini berasal dari penjelasan Babad Ing Sangkala. Sedangkan Sir Thomas Stanford Raffles, memberikan kesaksian bila dieranya tembakau telah ditanam di Jawa.

penjual tembakau

Di masa pendudukan Belanda, penanaman tembakau semarak dilakukan pada zaman Van Den Bosch (1830) melalui Cultuurstelsel di daerah Semarang. Masa itu, kebutuhan tembakau jenis Voor-Oogst sangat dibutuhkan pasar Eropa sebagai bahan baku cerutu. Di dalam negeri pun, orang-orang Belanda menyukai cerutu. Kegemaran ini diikuti para aristokrat Melayu. Bahkan, dikisahkan bahwa bangsawan Aceh, sultan Banten, dan sultan Agung Mataram juga mengisap cerutu saat menyambut tamu.

petani tembakau

Sementara itu, di kalangan rakyat pribumi umumnya mempunyai selera berbeda atas tembakau. Mereka lebih menyukai jenis olahan tembakau yang dicampur dengan berbagai bahan lokal, dari wur, klembak, menyan, dan cengkeh. Tembakau itu ditanam oleh rakyat secara swadaya. Berbeda dengan jenis tembakau yang diwajibkan tanam paksa oleh Belanda.

rokok

Dengan demikian, kebiasaan merokok memang sudah umum dilakukan oleh masyarakat. Kebiasaan ini sama seperti minum teh, ngelarasuyon-uyon, atau memancing di sungai. Aktivitas merokok bagi masyarakat sebagai upaya menghibur diri, membahagiakan hati, dan mengendorkan ketegangan dari aktivitas sehari-hari.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto