Rokok, tembakau, dan sirih dalam budaya dayak

rokok budaya
rokok budaya

Bagi orang Dayak sirih, tembakau, dan rokok menduduki peran ritual masyarakat yang penting. Ketiganya dipadu bersama kapur sirih serta dipercaya mempunyai manfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kemunculan tembakau dalam konteks terkait sirih, terlihat dari terus digunakan sirih sebagai obat, dan tembakau yang baru dikenal belakangan ditambahkan sebagai bahan baru. Begitu pula ketika rokok mulai dikenal orang Dayak.

Dalam ritual yang berkaitan dengan kematian, tembakau dan sirih digunakan dengan cara yang sama, dan bisa saling mengantikan, dalam bentuk sesajen kepada orang mati atau yang sedang menjelang ajal.

Di akhir abad 19, sebagaimana ditulis H. L. Roth dan H. B. Low dalam The Natives of Serawak and British North Borneo, sirih dan rokok dijadikan persembahan bagi orang mati. Benda-benda itu dikuburkan bersama beras serta mayat seorang yang telah mati sebagai simbol kehidupan si mati telah terbekati.

Pada masa setelahnya, di mana Belanda mulai membuka perkebunan di Kalimantan, upah bagi pekerja juga berupa gulungan tembakau. Pemberiann sesajen dan upah dalam kehidupan masyarakat Dayak didasarkan pada keyakinan benda-benda tersebut bermanfaat.

Pengamatan Frank Marryat pada awal abad 19 terhadap berbagai kelompok masyarakat Dayak, yang termuat dalam Borneo and the Indian Archipeago, tertulis cara orang Dayak merokok, “(mereka) menguyah dan merokok tembakau, tetapi mereka tidak menggunakan pipa untuk merokok, mereka menggulung tembakau di lembaran daun kering, mengambil tiga atau empat isapan, mengembuskan asap melalui hidung, dan mematikannya.”

Sumber artikel: manfaatrokok.wordpress.com // Sumber foto: Eko Susanto (Flickr)