Sejarah Taru Martani: Daun Tembakau yang Mengalirkan Kesejahteraan kepada Masyarakat

Taru Martani, salah satu pabrik cerutu tertua di Indonesia yang berada di lahan seluas 2,2 hektare berada di Jalan Kompol Bambang Suprapto, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta, lebih mirip bangunan tua.

Bahkan, bila orang melewati jalan itu, hanya terdapat bangunan tua yang entah berfungsi sebagai apa. Banyak yang mengira bangunan yang berdiri sejak 1918 itu merupakan pabrik rokok lintingan rumah tangga. Tak jarang juga mengira bangunan tersebut bekas pabrik yang sudah tutup.

Padahal, bangunan tersebut masih berfungsi sampai sekarang. Di dalamnya terdapat 200-an pekerja yang bertugas di ruang produksi.

Berbicara tentang Taru Martani, memang tidak bisa dilepaskan dari Sultan HB IX, yang ketika itu menjadi Raja Keraton Yogyakarta sekaligus gubenur. Ia mencetuskan nama Taru Martani yang sarat filosofi dan harapan.

Taru Martani berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa. Taru berarti ‘daun’ dan martani yang bermakna ‘kehidupan’. Nama ini bisa diterjemahkan sebagai daun tembakau yang memberi kesejahteraan kepada masyarakat.orang merokok

Itu sebabnya, dalam kondisi sesulit apa pun para pengelola tetap mempertahankan pabrik tetap berproduksi sebagai implementasi dari amanat Sultan HB IX.

Category : Kabar