rokok budaya

Soal rokok, MUI mengambil hak Tuhan

“Yang berhak me-wajib-kan, men-sunnah-kan, me-mubah-kan, me-makruh-kan dan meng-haram-kan sesuatu hanya Tuhan. Ulama dan kita semua hanya menafsiri sesuatu,” kata budayawan Emha Ainun Najib.

Menurutnya, kalau MUI (MajelisUlama Indonesia) bilang ‘rokok itu haram’. Itu posisinya beliau-beliau berpendapat bahwa karena sesuatu dan lain hal maka diperhitungkan bahwa Tuhan tidak memperkenankan hal itu diperbuat. Dan wewenang berpendapat itu dimiliki setiap orang, sepanjang memenuhi persyaratan methologis dan syar’i. Jika prasyarat itu terpenuhi maka berhak mengeluarkan pendapat tentang kehalalan dan keharaman rokok dan apapun.

Jika NU tidak merekomendasikan pengharaman rokok, dan Muhammadiyah menarik fatwa haram rokok, artinya para ulama dari dua organisasi Islam terbesar itu mempunyai pendapat berbeda. Nah, di sini bila MUI bersikeras memaksakan kehendaknya bahwa fatwanya paling benar dan tidak memberi ruang berpendapat bagi orang lain untuk mempunyai pendapat yang berbeda, ia sebenarnya telah mengambil Hak Tuhan.

Sumber foto: Eko Susanto (Flickr)