petani tembakau

Stop Eksploitasi Anak Dalam Kampanye Antirokok

Rokok memang tidak diperkenankan untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan pada anak-anak. Kebijakan tersebut telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012 yang melarang penjualan, pembelian, dan konsumsi produk tembakau oleh anak-anak di bawah umur 18 tahun. Bagaimanapun, Aktivitas merokok merupakan pilihan untuk orang dewasa.

orang merokok

Tapi bukan berarti peraturan tersebut menjadi pembenaran untuk memanfaatkan anak-anak agar terlibat dalam kampanye antirokok.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, yaitu pelibatan anak-anak dalam kampanye antirokok  yang dilakukan oleh Yayasan Lentera Anak memanfaatkan siswa-siswi SLTP di beberapa daerah untuk merazia sejumlah reklame di dekat sekolah mereka.

rokok

Sebelumnya, Human Rights Watch (HRW) juga melakukan hal yang sama ketika melansir “’The Harvest is in My Blood’: Hazardous Child Labor in Tobacco Farming in Indonesia”, sebuah penelitian yang mengeksploitasi anak-anak di lingkungan perkebunan tembakau. Bahkan kemudian diketahui bahwa anak-anak yang terlibat itu bukanlah pekerja anak, malahan juga tidak pernah pergi ke kebun tembakau.

petani tembakau

Tindakan pelibatan anak-anak dalam kampanye antirokok tentu tidak tepat. Terlebih jika dilakukan pada jam pelajaran saat anak-anak itu harus mengikuti pelajaran di sekolahnya.

anak-anak petani tembakau

Jika benar memang ada perusahaan yang menyalahi peraturan, Yayasan Lentera Anak seharusnya bisa menegur melalui aparatur yang berwenang. Tanpa membawa anak-anak keluar dari sekolah.

kebun tembakau

Untuk diketahui, Yayasan Lentera Anak adalah satu lembaga yang menerima dana Bloomberg Initiative untuk memerangi produk tembakau di Indonesia. Dikutip dari tobaccocontrolgrants.org, aliran dana yang mengalir ke LSM, universitas, dan kementerian, termasuk Muhammadiyah mencapai Rp105,308 triliun.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto