budaya rokok

Tiga Kebohongan dari “Koalasi Rakyat Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok”

Budaya Rokok – Beberapa waktu lalu, Hery Chaeriansyah yang mengatasnamakan perwakilan dari Koalisi Rakyat Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok memberikan penyataan kepada media yang mengklaim sejumlah kebohongan telah dilakukan oleh industri rokok.

budaya rokok

Namun bukannya memberikan informasi yang didukung oleh data, Hery Chaeriansyah, justru menyebarkan kebohongan demi kebohongan. Dari keterangan yang disampaikan Heru Chaeriansyah dan dikutip oleh CNN Indonesia dengan judul “Industri Rokok Diklaim Berbohong Soal Jumlah Petani Tembakau” berikut informasi-informasi bahwa pernyataan Hery Chaeriansyah tidak benar.

1. Klaim Hery Chaeriansyah jumlah petani tembakau di Indonesia yang sekarang ada di Indonesia berjumlah 500 ribu saja.

Faktanya, data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2009 menyebutkan kegiatan on farm komoditas tembakau mampu menyerap tenaga kerja 2,1 juta jiwa, sedangkan kegaitan off farm sebesar 7,4 juta jiwa. Data tersebut masih sama pada tahun 2014, di mana Direktorat Jenderal Perkebunan mengatakan bahwa terdapat 2,1 juta petani tembakau. Hal ini belum termasuk pekerja kaitan dari perkebunan tembakau seperti jasa transportasi dan pengolahan. Data akan bertambah lagi apabila dihitung keluarga petani misalkan seorang petani tembakau menghidupi satu istri dan dua orang anak.

petani tembakau

Dan, bila berbicara mengenai industri rokok di tanah air tidak bisa dilepaskan dari perkebunan cengkeh yang kini tersebar di seluruh Indonesia, utamanya di Indonesia Timur, yang sekitar 9,3 persen dari produksi cengkeh diserap oleh industri rokok. Data dari Kementerian Pertanian tahun 2014 menyebutkan jumlah petani cengkeh di Indonesia mencapai 1,5 juta jiwa.

2. Klaim Hery Chaeriansyah jumlah pekerja dan petani tembakau di Indonesia berkisar 280 ribu orang.

Faktanya, jumlah tenaga kerja pabrik rokok di Indonesia menurut data Kementerian Pertanian mencapai 600 ribu orang di pabrik rokok, 1 juta orang pengecer rokok, dan 1 juta orang tenaga percetakan dan periklanan rokok.

budaya rokok

Kebohongan dari informasi yang disampaikan oleh Hery Chaeriansyah menjadi tampak jelas dengan angka yang disampaikan. Pertama ia menyampaikan jumlah petani tembakau hanya tinggal 500 ribu saja, tetapi dalam data jumlah pekerja dan petani tembakau ia menyatakan hanya berkisah 280 ribu orang. Padahal gabungan dari tenaga kerja pabrik dan petani tembakau mestinya akan bertambah.

3. Klaim Hery Chaeriansyah menyatakan industri rokok sudah tidak dimiliki oleh orang Indonesia. Menurutnya, Sampoerna sudah dikuasai Philip Morris, Gudang Garam dibeli Jepang, Djarum pun dibeli Japan Tobacco.

Faktanya, dari tiga informasi yang disampaikan Hery Chaeriansyah, hanya satu yang bisa dipercaya yakni kepemilikan PT HM Sampoerna TBK yang telah dimiliki oleh PT Philip Morris Indonesia. Menurut Laporan Keuangan Tahun 2014 dan sumber berita lain, diketahui bahwa sejak 2005 PT Philip Morris Indonesia telah membeli 98,18% saham PT HM Sampoerna.

budaya rokok

Sedangkan PT Gudang Garam yang terdaftar di bursa efek sejak 21 Agustus 1990, tercatat hingga 30 September 2015, porsi sahamnya terbagi dalam kepemilikan PT Suryaduta Investama sebesar 69,29%, PT Suryamitra Kusuma 6,26%, Juni Setiadi Wonowidjojo sebesar 0,5%, Susulo Wonowidjojo sebesar 0,38%. Sedangkan sisanya sebesar 23,53% saham tersebar di publik.

PT Djarum yang diklaim oleh Hery Chaeriansyah telah dibeli Japan Tobacco Internasional ialah masih belum go public. Status perusahaan tersebut masih merupakan perusahaan keluarga yang kepemilikannya dipegang oleh keluarga Hartono.

Foto oleh : Eko Susanto