Turunnya Nilai Tukar Rupiah Tak Menggangu Industri Rokok

rokok indonesia
rokok indonesia

Industri dalam negeri terpukul dari terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS yang terjadi belakangan ini. Berbagai sektor industri mengalami kemunduran. Hal ini diakibatkan makin tingginya beban biaya bahan baku yang meski ditanggung akibat melemahnya nilai rupiah. Keadaan ini terjadi akibat sektor industri dalam negeri memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor.

Di saat sektor industri lain mengalami kemunduran, industri rokok bisa dipastikan akan bertahan dari goncangan krisis ini. “Seperti ketika krisis-krisis sebelumnya, industri kretek akan tetap bertahan karena dari hulu hingga hilir hampir semua bahan bakunya dari dalam negeri,” kata Hasan Aoni, Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPRI), seperti dikutip CNN Indonesia.

Tetapi, yang menjadi persoalannya pemerintah justru memberikan beban tambahan terhadap industri rokok nasional dengan rencana Pajak Pertambahan NIlai (PPN) sebesar 10 persen dalam semester kedua tahun ini. Padahal, awal tahun lalu telah terjadi kenaikan cukai 8,72 persen.

Kenaikan beban pajak dan cukai yang hampir terjadi setiap tahunnya terhadap industri rokok telah terbukti menjadi beban dan berhasil membuat banyak pabrik rokok kecil tumbang. “Pada 2009 ada 4.900 industri rokok dan lima tahun kemudian tinggal 800 pabrik. Kalau satu pabrik mempekerjan sekitar 25 orang, total sekitar 102,5 ribu orang kehilangan pekerjaan,” katanya.

Sumber Foto: Eko Susanto (Flickr)