1 Bungkus Rokok atau 1 Slop, Mana Pilihanmu

Sobat kretekus pasti pernah mengalami yang namanya keinginan untuk menghemat pengeluaran untuk rokok. Salah satunya adalah dengan mensiasati dengan membeli rokok grosir 1 slop daripada 1 bungkus rokok. Sebetulnya, kedua-duanya bisa sama-sama irit. Pembeda indikator irit dan boros sebenarnya terletak pada pola konsumsi yang harus dikenali.

Tiap orang memiliki skala prioritas dan pola konsumsi yang berbeda terkait rokok. Pola ini juga memiliki kesamaan dengan pola pengaturan keuangan sehubungan dengan pemasukan dan pengeluaran. Roki menerapkan batasan dalam konsumsi rokok karena pertimbangan keuangan dan kemampuan fisik.

1 Slop atau 1 Bungkus Rokok

Bila kamu mampu mengatur batas konsumsi ini, tak jadi masalah membeli 1 slop untuk stok 10 hari ke depan. Itu pun dengan harga yang lebih murah dibandingkan mengecer 1 bungkus tiap hari dan diakumulasikan berturut-turut. Tapi akan berbeda perhitungannya ketika dengan membeli 1 slop rokok. Biasanya justru memudahkan batasan konsumsi yang 1 hari cukup 1 bungkus menjadi 2 bungkus. Nah, karena alasan “ah masih ada yang lain”.

Alasan toleransi seperti di atas itu yang membuat batasan konsumsi rokok tiap hari menjadi melar dibandingkan biasanya. Pada hari-hari tertentu, Roki biasanya tak habis 1 bungkus dalam 1 hari karena sedang ada kesibukan pekerjaan atau mulut sedang tak enak merokok.

Kondisi-kondisi khusus itu menyebabkan kita lebih irit membeli 1 bungkus karena ada sisa entah 3-4 batang yang bisa dikonsumsi pada esok harinya. Artinya, kita bisa lebih menghemat pengeluaran untuk membeli 1 bungkus baru tiap pagi atau siang harinya. 

Baca Juga: Membandingkan Harga Rokok di Indonesia dan Australia

Lain halnya ketika kita mempunyai stok berlebih dengan maksud agar tidak bolak-balik ke toko membeli rokok. Bagus sebenarnya, tapi secara psikologi kita merasa bahwa ada sesuatu yang lebih sehingga kuantitas konsumsi cenderung naik karena ketersediaan rokok yang biasanya terbatas membuat kita berhemat.

Secara psikologi juga, manusia cenderung menghabiskan barang yang sudah tersedia di depan mata karena ada pewajaran ada toleransi. Ada perasaan “sayang jika tidak dihabiskan” yang muncul.

Kesimpulannya, membeli rokok 1 bungkus, 1 kaleng atau bahkan 1 slop harus disesuaikan dengan pola konsumsi yang berada dalam batasan wajar kita. Tiap orang memiliki kemampuan keuangan yang berbeda sehingga boros atau iritnya konsumsi rokok harus disesuaikan dengan isi dompet. 

Baca Juga: Rokok Bukan Faktor Utama Segala Penyakit

Komentar Anda