3 Alasan Mengapa Harus Bersyukur kepada Tembakau

Tiap tahunnya, tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau World No Tobacco Day. Dikutip dari Tirto.id, HTTS ini merupakan agenda dari WHO (World Health Organization) untuk mencegah dan mengurangi penyakit yang berhubungan dengan penggunaan tembakau dan nikotin.

Genderang perang terhadap tembakau dan produk turunannya oleh WHO melalui peringatan HTTS tentu berdampak secara langsung terhadap ekonomi. Sebab, peringatan ini berisi kampanye untuk menghentikan kampanye produk tembakau selama seharian penuh. Tahun ini, HTTS temanya mengambil judul Commit to Quit/Berkomitmen untuk Berhenti. 

Baca Juga: IHT Terancam oleh Regulasi Pemerintah

Sayangnya, meskipun sudah bertahun-tahun kelompok antirokok menyebarkan kampanye HTTS dengan isu kesehatan. Tampaknya hal itu tidak akan menutup manfaatnya dan produk rokok kretek.

Di bawah ini adalah 3 alasan mengapa kita perlu berterimakasih pada tembakau serta menolak HTTS

  1. Kontribusi Ekonomi pada Negara Indonesia

Dikutip dari Bisnis.com, Kementerian Keuangan mencatat kenaikan harga rokok melalui cukai hasil tembakau (CHT) membuat penerimaan negara di sektor tersebut tumbuh signifikan.

Pada awal 2021, penerimaan cukai Dirjen Bea Cukai mendapatkan pemasukan sebesar Rp49,56 triliun. Sebelumnya, ketika sektor pariwisata mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19, sektor industri rokok menunjukkan pertumbuhan yang kuat menurut Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan.

      2. Warisan budaya

Ketika Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, beliau sedang menorehkan lembar sejarah komoditas penting yang kelak berkontribusi besar terhadap ekonomi dan kebudayaan.

Di dalam sebuah bukunya dengan judul Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, rokok kretek diakui sebagai warisan budaya sebab beberapa hal yang tidak saja menunjuk sebagai praktik kehidupan sehari-hari saja. Pengakuan tertulis dari salah satu penulis buku di atas mengindikasikan bahwa ada satu unsur unik dalam rokok kretek jika ditilik dari bahan baku serta proses produksinya.

       3. Komoditas penting dalam ekonomi kerakyatan

Sejak era kolonial hingga saat ini, tembakau dan hasil olahannya merupakan produk tanaman perkebunan bernilai tinggi karena menjadi sumber devisa, cukai, dan pendapatan petani. Secara kultural, ada empat provinsi yang menjadi sentra budidaya tembakau di Indonesia. Keempatnya adalah provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam tata niaga perkebunan tembakau rakyat, daun tersebut masih menjadi produk utama yang diperdagangkan. Sedangkan rokok tercatat menjadi produk turunan terbanyak yang diperdagangkan di Indonesia. 

Melalui PerPres No. 82 Tahun 2018 yang mengatur tentang Jaminan Kesehatan, Presiden Jokowi secara tegas keluar dari polemik dan mengambil keputusan yang nyata untuk menutup defisit  keuangan BPJS. 

Perpres tersebut merupakan bukti konkret bahwa komoditas tembakau memiliki andil dalam menjaga kestabilan neraca keuangan negara. Jadi, dengan tiga alasan di atas, masihkah kamu tidak mau berterimakasih kepada tembakau dengan cara merayakan HTTS?

Baca Juga: Inilah Manfaat Sesungguhnya dari Puntung Rokok

Komentar Anda