Ada Banyak Faktor Penyebab Kanker Paru

Masyarakat sudah terdogma bahwa perokok pasti terkena kanker paru-paru. Pikiran semacam ini menjadi lazim karena iklan peringatan rokok yang bertuliskan “Merokok Menyebabkan Kanker Paru-Paru, Serangan Jantung, Impotensi, Gangguan Kehamilan dan Janin”. Tulisan peringatan bahaya rokok tersebut kini tampil lebih mengerikan disertai ilustrasi paru-paru yang menghitam, gambar tengkorak, dan tenggorokan berlubang. Gambar-gambar mengerikan tersebut seolah meneror kita bahwa merokok otomatis kanker tersebut.

Baca Juga: Pilih Satu Bungkus Rokok atau Ketengan?

Dalam sebuah overview tentang kanker paru-paru, secara jelas tertulis mereka yang merokok memiliki potensi terpapar paling tinggi. Salah satu hal paling judgemental di sini adalah soal rokok yang dikambinghitamkan sebagai satu-satunya penyebab kanker tersebut. Padahal, asap kendaraan dan polusi udara non rokok juga mengandung zat kimia berbahaya yang juga menyebabkan kanker. 

Di Amerika Serikat, 10 % dari 20% pasien kanker paru terjadi tiap tahunnya pada orang-orang yang tidak merokok atau merokok kurang dari 100 batang tiap tahunnya. Dr. Su Jang Wen, misalnya. Dia adalah ahli bedah Toraks dan Kardiovaskular dari Gleneagles Hospital Singapura. Menurutnya, anggapan “Saya tidak merokok jadi tidak punya kanker paru-paru” adalah pernyataan yang salah. Saat ini, sudah banyak ditemukan kasus orang yang tidak merokok tapi tetap terkena kanker

Tidak Merokok Berpotensi Kena Kanker

Riwayat keluarga menjadi salah satu penyebab seseorang terkena kanker paru-paru, selain bahan karsinogenik. Bahkan, bahan kimia tertentu yang terkandung di dalam udara juga memicu seseorang menderita kanker tersebut. Jika ada anggota keluarga yang terkena kanker paru-paru di usia muda, misalnya usia 40 tahun, kemungkinan besar bisa menurunkan resiko kanker paru pada anak-anaknya. Oleh karena itu, sebaiknya, anggota keluarga lainnya melakukan pengecekan secara rutin.

Pengecekan kesehatan secara rutin lebih bermanfaat dibandingkan ketika sudah menghadapi situasi terkena kanker. Situasi ini semakin runyam dan pelik ketika rokok dipersalahkan sebagai satu-satunya penyebab kanker paru-paru. Masyarakat juga tidak berupaya membandingkan fakta-fakta dengan dusta antirokok. Begitu juga para agen antirokok yang bakal sekuat tenaga menutupi hal-hal seperti ini, meski banyak dari mereka adalah dokter dan ahli kesehatan.

Situs kesehatan selalu menyatakan jika menjadi perokok pasif lebih berbahaya daripada menjadi perokok aktif. Sebab kerugian yang diterima orang yang tak merokok lebih berbahaya daripada mereka yang merokok. Sehingga setiap perokok perlu dijauhi, diisolasi keberadaannya agar tidak menularkan penyakit serius seperti kanker tersebut. Sayangnya, agen antirokok tidak mau peduli terhadap variabel lain seperti polusi udara, faktor keturunan serta gaya hidup.

Baca Juga: Orangtua Perokok Itu Biasa Saja

Seumpama variabel-variabel selain asap rokok diperhitungkan, maka agen gerakan antirokok akan sadar bahwa kanker memiliki sebab musabab tertentu yang tidak hanya rokok. Jika mereka tidak menemukan kesalahan rokok, mereka akan terus mencari kesalahan, misalnya bau tembakau, sisa aroma tembakau yang lengket dan lain sebagainya. Pokoknya hanya rokok yang selalu salah, antirokok benar.

Komentar Anda
Category : Artikel