Ada yang Menarik dari Pertumbuhan Rokok Ilegal

Rokok ilegal adalah komoditas yang menyebabkan ketidaksehatan dalam distribusi rokok di Indonesia. Kontribusi rokok terhadap perekonomian Indonesia tidak bisa dibilang remeh karena menempati urutan kedua tertinggi di Indonesia. Faktor kontribusi ekonomi inilah yang menjadi pertimbangan pemerintah untuk memerangi rokok tidak legal yang merugikan pendapatan negara. 

Setidaknya, ada empat variabel yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam rumusan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2022. Empat hal ini saling berkaitan satu sama lain sehingga jika satu tidak terwujud, yang lain juga akan mengalami hambatan dalam pelaksanaannya. Empat variabel tersebut adalah kesehatan, tenaga kerja & petani tembakau, pendapatan negara dan perang rokok ilegal.

Diskursus pada poin terakhir ini menyangkut pada aspek yang lain sehingga pemberantasan rokok ilegal adalah salah satu prioritas pemerintah dalam rangka mengamankan pendapatan negara. Walaupun kita tahu, pemerintah bersikap ambigu dalam mendukung industri rokok Indonesia dengan setengah hati, dalam artian industri rokok diperlakukan layaknya sapi perah untuk menambah pundi-pundi pendapatan negara. 

Pemerintah memiliki otoritas untuk berpihak pada salah satu prioritas tersebut. Artinya, jika rokok legal berkontribusi terhadap negara dari tahun ke tahun, seharusnya sikap terhadap rokok ilegal tidak hanya sekedar pencitraan untuk ngayem-ayemi industri rokok legal yang terbebani oleh kenaikan cukai di tahun 2022 nanti. 

Baca Juga: Meski Bingung, Orang Tetap Merokok. Kenapa?

Industri rokok juga dihajar oleh gerakan antirokok dengan menggunakan isu kesehatan yang selama ini dikampanyekan oleh beberapa instansi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki afiliasi ideologis maupun afiliasi organisatoris dengan lembaga donor kesehatan global. Dalam buku Nicotine War, Hamilton menyebutkan dengan jelas peran WHO dalam mensponsori gerakan antirokok di seluruh dunia.

Bagaimana jika rokok Indonesia dirugikan oleh adanya rokok ilegal sekaligus isu antirokok? Hal itu akan berdampak terhadap variabel lain yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam menaikkan cukai rokok di tahun 2022, yaitu variabel buruh linting, pekerja di pabrik rokok dan petani tembakau. Tiga pihak ini menjadi tulang punggung industri rokok kretek di Indonesia. Tanpa mereka, mustahil rokok dapat dinikmati hingga sekarang. 

Pemerintah dan Industri Hasil Tembakau

Sektor Industri Hasil Tembakau adalah sektor industri yang padat karya, artinya melibatkan banyak sektor produksi dan distribusi sebelum dinikmati oleh konsumen. Merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan perut jutaan orang bukanlah perkara sepele. Harus matang dan terukur.

Aspek terakhir adalah soal pemberantasan rokok ilegal. Nah, ada yang unik dari logika pemerintah soal pertimbangan yang keempat ini. Negara menyadari bahwa salah satu alasan rokok ilegal banyak beredar adalah karena makin mahalnya harga rokok. 

Kemudian pemerintah, sebagai pemegang otoritas, justru merumuskan solusi berupa kebijakan kenaikan tarif cukai yang pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga jual rokok. Kontradiktif. Tahun lalu, peredaran rokok ilegal meningkat hingga 4,9 persen, melewati batas toleransi pemerintah yakni maksimal 3 persen setiap tahun. 

Maraknya peredaran rokok ilegal tidak bisa dipisahkan dari faktor ekonomi rokok yang tiap tahunnya naik dengan perlahan mengikuti kenaikan cukai. Tindakan preventif seperti pemberantasan melalui cara-cara penggerebekan pabrik rokok tidak legal sepertinya tidak menyelesaikan permasalahan ini hingga ke akarnya. 

Baca Juga: Ini 3 Perusahaan Rokok Terbesar di Indonesia

Tindakan tegas memang perlu. Tetapi akar dari peredaran rokok ilegal adalah adanya permintaan pasar yang tinggi terhadap rokok murah tetapi berkualitas.

Logika ini yang sebetulnya kurang begitu diperhatikan dalam pertumbuhan rokok tidak legal. Sekalipun pabriknya digerebek, maka akan tumbuh 100 pabrik rokok ilegal rumahan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan strategi penanganan yang lebih mengakar dibandingkan tambal sulam.

Komentar Anda