Cukai rokok

APTI Tolak Simplifikasi dan Kenaikan Cukai yang Merugikan Petani Tembakau

Wacana mengenai kenaikan cukai untuk tahun depan terus diperdebatkan. Seperti yang diserukan oleh masyarakat yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia. Mereka menolak simplifikasi (penyederhanaan) pemungutan cukai rokok dan naiknya harga cukai yang tiap tahun justru membumbung tinggi.

Desakan itu ditujukkan kepada DPR supaya pemerintah segera membicarakan bersama persoalan seperti ini. Sebab, jika diamati lebih lanjut lagi, imbasnya tentu yang teramat dirugikan adalah para petani tembakau.

Dampak buruk yang dirasakan pertama adalah harga jual tembakau yang terlampau jauh dari harapan. Harga tembakau bakal anjlok karena turunnya permintaan pabrikan. Dan pengusaha akan lebih cenderung enggan membeli tembakau yang berasal dari petani lokal.

Pengalaman tahun lalu saja, dapat dilihat bahwa rata-rata petani tembakau merugi karena hasil panennya tidak dibeli dalam kurun waku kurang lebih enam bulan. Penyebabnnya adalah naiknya harga cukai dan harga jual eceran (HJE) tembakau sebesar 23 persen dan 35 persen. Alhasil menyeret pada penurunan harga jual tembakau dari petani, penurunan produksi, hingga terjadi penurunan volume tembakau yang dipasok ke pabrikan.

Sedangkan yang kedua, dalam hal simplifikasi, dari pengamatan yang ditelusuri bahwa besar kemungkinan kebijakan tersebut hanya menguntungkan perusahaan rokok besar asing yang ada di Indonesia. Yang direbut dengan cara persaingan perang dagang dengan perusahaan rokok skala menengah.

Ada baiknya pemerintah tidak main asal ambil langkah, terus menaikkan kuota impor tembakau. Padahal di negeri ini punya stok tembakau berkualitas bagus. Memang antisipasi impor haruslah ada, tetapi itu cuma berlaku untuk menutupi kekurangan produski tembakau di Indonesia.
Keluhan tersebut disampaikan begitu juga dengan membeberkan dampak negatif ke depannya. Karena dapat dibilang jika cukai terus naik bakal membuka peluang banyaknya bermunculan pengusaha rokok illegal.

Selain itu juga APTI mendesak agar distribusi dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) ditujukkan dengan benar. Sebab yang sejauh ini dapat dilihat cenderung tidak dilokasikan tepat sasaran, malah dominan dimasukkan kedalam ongkos dan kampanye kesehatan. Serta belum menemukan titik tengah pada keseragaman serapan dana DBHCHT yang masih sering terjadi ketimpangan dana di wilayah satu dengan yang lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa titik permasalahan ini terjadi pada pemerintah yang enggan berkoordinasi terlebih dahulu dan memilih jalur menguntungkan satu pihak. Hasilnya adalh harga cukai naik, simplifikasi hingga DBHCHT yang masih belum memberi hasil baik dalam hal penyaluran dana.

Sebagai kaum perokok, mari kita sama-sama serukan kepedulian, mengingat sektor produksi utama tembakau kita sedang terpukul. Layangkan keresahan ini bersama agar pemerintah tertampar dan mau sadar atas nasib petani tembakau.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :