asap rokok

Asap Rokok Tidak Menyebarkan Virus Corona

Jika kebencian sudah mendarah daging, apa pun yang dilakukan seseorang tetap di mata pembenci selamanya buruk. Dan karena itu perokok, bagi para pembenci, adalah seseorang yang bisa memberikan efek bahaya. Terutama dari asap rokok.

Setidaknya begitulah wacana tentang perokok yang dikaitkan dengan virus corona. Isu yang berembus adalah asap yang ditimbulkan perokok bisa menyebarkan  virus corona.

Entah dari mana dan bagaimana isu tersebut berembus. Padahal, ahli epidemologi Universitas Airlangga Surabaya telah menyatakan bahwa asap rokok tidak menyebarkan virus corona.

Yang berbicara adalah epidemologi, bukan profesor khayalan, influencer apalagi buzzer. Jadi, validitas pernyataan dapat dipertanggungjawabkan. Maka, bisa dikatakan bahwa wacana tersebut basi.

Tapi isu seperti itu bagaikan kapas. Ia mudah terbang, terurai. Jika diambil dan dikumpulkan menjadi satu keutuhan, sebuah hal yang mustahil. Seperti peribahasa, mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Coba mencari walaupun hasilnya nihil.

Jika melihat lebih jernih tentang penyebaran virus corona melalui udara, bukan asap rokoknya melainkan dropletnya. Itu pun bukan di udara bebas melainkan airbone dari hasil keluar droplet.

Lebih jernih lagi melihat permasalahan ini, penyebaran virus corona melalui udara lebih banyak terkena di ruangan tertutup. Seperti contoh bioskop atau bar yang mana sirkulasi udara tidak begitu baik.

Bahkan, droplet yang menyebar karena orang-orang tidak menggunakan masker, misal saat bersin. Sehingga, molekul yang berukuran lebih kecil dari lima mikrometer dapat melayang-layang di udara. Molekul tersebut dapat bertahan hingga delapan jam.

Jadi, klaim bahwa asap rokok menyebarkan virus corona sungguhlah tidak benar. Biasanya, orang-orang yang menyebarkan isu tersebut ingin membuktikan bahwa merokok adalah hal yang keliru. Perbuatan yang jahat. Keji.

Isu seperti itu hanya bisa diembuskan oleh orang-orang yang katakanlah antirokok. Sebuah klaim kebenaran yang berujung kesalahan. Beruntung, di Indonesia telah banyak ahli, seperti Windhu Purnomo yang bisa menjelaskan secara ilmiah.

Oleh karena itu, para perokok jangan sampai terprovokasi oleh isu-isu yang tidak benar dan cenderung merugikan. Lihat, ketahui, dan pahami isunya. Cari pernyataan yang valid dari para ahli. Bukan dari klaim netizen.

Maka, untuk mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita, para perokok, lebih banyak membaca sebelum berkomentar. Biarkan mereka—para antirokok yang hobi berkomentar daripada membaca.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :