pabrik rokok

Aturan Tarif Cukai Hasil Tembakau Memberatkan Perusahan Rokok Kecil

 

Perusahaan-perusahaan rokok kecil yang tergabung dalam FORMASI (Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia) mendesak supaya menghapus peraturan pemerintah mengenai tarif hasil jual tembakau. Bagaimana tidak, aturan yang termuat pada Perdirjen Bea Cukai No 37/2017 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau, terlihat memberatkan perusahaan rokok kecil.

Klausul itu belum termuat pada kesepatakan bersama dengan perusahaan rokok kelas menenangah. Efek yang teramat berat dirasa karena membolehkan produsen menjual rokok ke konsumen dengan harga di bawah 85 persen dari harga yang dibanderol yang berlaku di 50 persen wilayah pengawasan kantor Bea Cukai.

Jika diamati lebih lanjutnya tentang ketentuan Perdirjen Nomor 37 tahun 2017 hasil turunan dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146 tahun 2017 tentang Tarif Hasil Cukai Tembakau. Hal ini membuat miris perusahaan rokok kelas menengah karena harus pontang-panting bersaing dengan pabrikan besar.

Begini, ketidakadilan amat dirasakan karena kalau perusahaan rokok besar dapat menjual harga produknya di bawah 85 persen dari harga jual eceran (HJE), membuat persaingan harga jual tidak seimbang dan malah cenderung menekan perusahaan kecil yang mau tidak mau mengikuti langkah tersebut. Harga produknya semakin murah. Alhasil banyak perusahaan besar berlomba-lomba untuk menjual produknya dengan harga paling rendah.

Yang jelas kalau mau diambil titik tengahnya, harga transaksi pasar (HTP) harus seimbang dengan harga jual eceran. Tujuannya supaya tidak lagi menggunakan unsur manipulatif yang dibuat dari perusahaan besar. Seperti menurut keterangan dari Sekjen Formasi mengatakan bahwa perusahaan kecil jadi tidak berkutik karena harus menyeimbangi harga jual pasar.

Selain itu pula, perusahaan beesar terlihat acuh dan tetap menjalankan ketentuan tersebut dengan menjual harga produknya di bawah 85 persen sebagai skema agar omset bisnisnya tidak turun dan tetap stabil. Belum lagi tantangan berat harus dirasakan oleh pabrikan kecil lantaran terhimpit dari sisi bawah, yaitu adanya gempuran dari rokok illegal yang dijual murah.

Sebetulnya aturan permisif ini sudah diprotes dari waktu yang cukup lama, agar kebijakan tersebut segera direvisi. Namun malah dibiarkan, tak kunjung sama sekali diperhatikan. Seolah-olah berlawanan arah dengan keinginan menetang kenaikan tarif cukai rokok.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :