Bagaimana Media Membingkai Vape dan Rokok?

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia disajikan produk nikotin yang baru berupa vape atau rokok elektrik di samping rokok konvensional. Produk vape, menurut pemberitaan beberapa media, ditampilkan sebagai produk yang lebih “sehat” dibandingkan dengan produk berbasis tembakau pada umumnya.

Anggapan ini tentu tidak sepenuhnya benar sekaligus merupakan upaya penyudutan perokok kretek. Bagaimana itu terjadi? Tentu melalui proses framing atau penampilan sudut pemberitaan yang kurang berimbang bahwa produk nikotin vape konon lebih aman daripada produk kretek yang menjadi penyebab kanker dan penyakit kronis lainnya.

Baca Juga: Perokok Anak dan Tanggung Jawab Orang Tua

Framing ini diperkuat dengan visualisasi mengerikan pada bungkus rokok bagian atas seperti kanker mulut, kanker lidah, serta paru-paru yang membusuk akibat akumulasi nikotin dari produk rokok konvensional.

Framing Media terhadap Kedua Produk

Sebagaimana kita ketahui, media berperan penting dalam membentuk opini di tengah masyarakat digital hari ini. Sebagaimana tulisan ini juga ingin membuat timbangan yang berimbang antara rokok dan vape dalam ukuran yang wajar tanpa perlu tendensius.

Rokok cenderung dipandang negatif. Residu berupa asap pembakarannya dianggap berbeda dnegan aroma asap vape. Sehingga menyebabkan beberapa pihak yang tidak merokok maupun antirokok semakin antipati mencium aroma tersebut. Contoh paling nyata adalah rokok menyan di beberapa daerah.

Jika kita menelaah lebih jauh, framing media yang menyudutkan rokok dapat ditelusuri asal-usulnya dengan melihat produk tembakau di depan konstitusi Indonesia. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau, misalnya. Tidak memuat satu frasa pun tentang pengaturan tersebut pada produk vape.

Sementara itu, dorongan untuk meregulasi peraturan kesehatan tentang vape baru digulirkan pada tahun 2019. Saat itu, pemerintah berupaya untuk mengatur produk nikotin berbentuk vape agar diatur dalam PP. No. 109 Tahun 2012.

Beberapa situs kesehatan seperti Halodoc.com dan health.detik.com menempatkan vape sebagai salah satu produk nikotin yang memiliki efek seperti rokok. Tentu, hal ini bergulir setelah booming vape menggejala di kalangan penikmat vape untuk mencoba perimbangan yang jelas tentang posisi rokok dan vape. 

Adil terhadap Keduanya

Tentu, kita berupaya untuk lebih adil dalam menempatkan dua produk nikotin ini agar tidak terjebak pada fanatisme yang kontra-produktif. Tujuannya adalah edukasi tentang vape dan rokok yang berimbang tanpa perlu menggembar-gemborkan isu kesehatan. Tidak perlu menyudutkan salah satu pihak dengan menggunakan framing media.

Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang berimbang tentang produk mana yang akan mereka pilih tanpa melalui pendiskreditan satu dibandingkan yang lainnya. Dalam sebuah iklim yang sehat, kedua-duanya memiliki penggemar sendiri tanpa perlu untuk memframing satu produk lebih unggul di antara yang lainnya. 

Baca Juga: Ini Durasi Sebats yang Cocok bagi Perokok Pemula

Komentar Anda