Balada Puntung Rokok di Gedung Kejaksaan Agung

23 Oktober 2020.

Hasil penyelidikan Bareskrim Polri menyatakan bahwa puntung rokok menjadi penyebab kebakaran Gedung Kejaksaan Agung pada 22 Agustus 2020.

Mendengar pernyataan dari Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Ferdy Sambo, netizen menggeliat di media sosial. Apakah benar puntung rokok bisa meluluhlantakkan lantai 6 ke bawah beserta isinya?

Pertanyaan tersebut dijawab dengan sejumlah analisa terkini. Lima tukang yang kedapatan membuang puntung rokok sembarangan ke lantai, akhirnya membuat gedung terbakar. Lalu, kok, bisa? Apakah lantainya mengandung bahan berbahaya?

Selidik punya selidik, lantai tersebut selalu dibersihkan menggunakan TOP Cleaner, salah satu merek pembersih lantai. Ternyata, merek tersebut mengandung bahan berbahaya. Apabila terkena percikan api, dalam sekejap membumihanguskan bangunan.

Fakta berikutnya, dalam gedung tersebut, terdapat bahan-bahan yang mengundang percikan api, misal, tiner dan lem aibon. Alhasil, barang siapa yang menaruh puntung rokok sembarangan, jelas membuat lantai dan seluruh isinya hangus dilalap si jago merah.

Masalahnya adalah mengapa lantai tersebut dibersihkan menggunakan TOP Cleaner? Dan itu berlangsung selama dua tahun.

Bagaimana tingkat keamanan gedung apabila kedapatan orang yang merokok di dalamnya?

Sebagai gedung yang memiliki seabrek berkas vital di negara ini seharusnya tingkat keamanan berada di kasta tertinggi. Misal, apabila ada asap, terdapat sensor yang biasa ditaruh di atas. Lalu, dalam hitungan 3-4 detik, asap tersebut segera dipadamkan dengan percikan air.

Tampaknya, gedung semegah itu tak memiliki peralatan demikian. Roki pun heran. Kok bisa, ya, gedung yang seharusnya menjadi salah satu pusat arsip negara tidak diproteksi dengan sedemikian rupa?

Puntung rokok yang dibuang sembarangan itu salah. Roki pun tidak suka. Ini mencerminkan bahwa mereka bukan perokok santun. Akan tetapi, perlu diingat bahwa merokok adalah aktivitas legal. Orang yang sudah memenuhi batas minimal usia boleh merokok.

Maka, atas legalnya merokok, apakah gedung Kejaksaan Agung memiliki ruang merokok? Ini penting. Jika tidak, adakah larangan merokok di lantai tersebut? Mengingat lantai tersebut dilumuri zat yang berbahaya.

Kini, puntung rokok telah menjadi objek terpilih, bahkan utama. Ia patut dipersalahkan karena membuat gedung terbakar.

Baca juga: 5 Temuan soal Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung, dari Penyebab hingga Tersangka

Akan tetapi, jika puntung rokok sebuah deskripsi, perlu ada meta deskripsi. Maka, itu bisa tertuju pada lantai yang dibersihkan dengan zat berbahaya—bahkan selama dua tahun, ketiadaan label atau larangan merokok, kurangnya sistem keamanan yang canggih pada gedung, dan alpanya ruangan merokok.

Ini harus menjadi kesatuan kronologi yang utuh. Orang-orang harus melihatnya secara jernih dan detail. Ada sekumpulan faktor yang membuat gedung tersebut terbakar.

Untuk teman-teman Roki, jadilah perokok santun. Buanglah puntung rokok pada tempatnya.

Komentar Anda