Begini Enaknya Memiliki Pacar Perokok

Kampanye anti rokok yang dipropagandakan lembaga anti rokok di Indonesia ternyata mampu mengombang-ambingkan hubungan pacaran. Seorang cewek yang merokok langsung dihakimi sebagai perempuan kurang bermoral sehingga sang pria yang tetap menjalin hubungan dengan sang pacar dianggap kurang mampu mengendalikan moral si pacar. Sementara itu, seorang cewek yang mempunyai cowok perokok pasti dianggap sebelah mata oleh calon mertua. Merokok adalah ukuran moral seseorang baik atau tidak.

Eh, tapi apa benar demikian, sih? Memang salah, ya, memiliki pacar seorang perokok?

Kita melihat bahwa norma masyarakat dibentuk melalui pemberitaan-pemberitaan yang didominasi satu narasi besar tentang bahaya rokok yang terkesan menyudutkan perokok. Pilihan hidup seseorang, termasuk pilihan mencari pasangan adalah pilihan pribadi sesuai kriteria masing-masing yang tidak bisa diintervensi dengan slogan seperti “Tolak Pacar Perokok”. Slogan demikian sangat menyudutkan kaum orang yang merokok. Bahkan, yang tidak mempunyai catatan kriminal di depan hukum.

Pacar Perokok Itu Salah?

Menurut saya, ada dua alasan utama mengapa orang merokok selalu dianggap kurang layak dijadikan pacar, baik cowok perokok ataupun cewek perokok. Alasan pertama, yaitu alasan kesehatan dan yang kedua, alasan ekonomi. Mari kita telusuri satu per satu.

Kalau kita melihat penggambaran media kita, terutama di Indonesia, hampir selalu menggambarkan sisi negatif seorang perokok yang rentan mengalami penyakit kronis pernafasan dan kanker. Selain berbahaya bagi dirinya sendiri, rokok dikesankan memiliki efek negatif bagi mereka yang tidak merokok namun terpapar asap rokok atau perokok pasif.

Baca Juga: Sumbangan Cukai Orang Merokok Kepada Negara

Apakah benar bahwa seorang perokok pasif memiliki dampak yang semengerikan itu? Coba klik tautan ini untuk sedikit memahaminya secara adil.

Kampanye antirokok dengan menunggangi isu-isu kesehatan tentunya tidak bisa kita lepaskan dari permasalahan ini. Beberapa jurnal dari artikel seperti Journal of Public Health Policy dan International Journal of Drug Policy menjadi acuan penentuan kebijakan Antirokok menggunakan pengarustutamaan isu kesehatan publik. Terserah saja Anda mau percaya atau tidak, buktinya, masyarakat kita tidak 100% seperti yang digambarkan dalam penelitian-penelitian tersebut.

Lalu, bagaimana jika kita mampu menghemat uang dengan tidak merokok? Semisal, per hari kita mampu menyisihkan uang Rp20.000, dikalikan 30 hari, terkumpul uang Rp600.000, lalu dikalikan selama satu tahun, 12 bulan, hasilnya Rp7.200.000. Bukankah lumayan?

Betul, dari segi perhitungan matematis sederhana bisa dibayangkan seperti di atas. Tapi, perhitungan di atas mengandaikan bahwa semakin seseorang pelit terhadap dirinya, ia akan semakin kaya. Padahal, dalam sebuah rokok, relasi sosial terjalin sehingga membuka kemungkinan-kemungkinan terbukanya pintu rezeki yang lain. Sehingga, perhitungan di atas tidak bisa dijadikan acuan bagi semua perokok. 

Baca Juga: Kenapa Perokok Wanita Dianggap Tabu di Indonesia?

Eh, sepertinya saya lupa, bahwa rokok tidak memiliki pembagian gender tertentu, sehingga kita harus adil memperlakukan sebatang rokok dengan tidak mengaitkannya pada jenis kelamin tertentu.

Komentar Anda
Category : Artikel