rokok murah

Belanja Rokok Bukanlah Pemborosan

Selama ini rokok kerap dijadikan kambing hitam dari persoalan kemiskinan di Indonesia. Pasalnya, rokok menjadi salah satu kebutuhan masyarakat yang memakan pengeluaran paling besar. Menurut data BPS, hingga saat ini rokok ada di posisi kedua penyebab kemiskinan. Posisi satu tentu saja diisi oleh beras.

Meski begitu, tentu saja beras tidak pernah dianggap sebagai penyebab kemiskinan. Padahal ya, kalau menggunakan logika BPS, harusnya beras yang dianggap sebagai penyebab utama kemiskinan dan harus dientaskan. Tapi ya berhubung beras adalah kebutuhan utama, beras tidak pernah diserang.

Satu hal yang patut dipahami oleh publik adalah, faktor konsumsi tidak bisa dijadikan penyebab utama kemiskinan. Penyebab kemiskinan tentu saja adalah ketidakmampuan negara menyediakan lapangan kerja serta kebijakan upah murah yang dilengkapi dengan kegagalan mereka menstabilkan harga untuk rakyat. Yang salah negara kok yang disalahin rokok.

Lagipula, pengeluaran masyarakat terhadap rokok yang dianggap sebagai pemborosan tidak sepenuhnya benar juga. Faktor pengeluaran ini tentunya harus dihitung berdasar kemampuan ekonomi seseorang. Jika seorang pekerja dengan gaji Rp 9 juta membeli Rokok LA Lights setiap harinya, untuk kebutuhan menemani kerjanya, ya tidak ada persoalan juga. Toh dia mampu dan sanggup membelinya.

Jika kemudian yang dimaksud adalah orang-orang dengan kemampuan ekonomi yang kurang, maka biasanya konsumsi rokok mereka juga akan disesuaikan. Ya setidaknya beli Aroma Slim atau Lodjie lah. Sebungkus dua hari mah masih ketakar dan terjangkau untuk dibeli.

Anggapan pemborosan ini biasanya dibuat berdasar upaya menyamaratakan kemampuan ekonomi semua orang. Ya masa sudah nggak punya uang beli Malboro, mereka juga tahu diri bos. Kalaupun sedang tidak ada duit masih ada cara untuk sebats seperti dengan tingwe atau meminta rokok teman.

Hal ini kurang lebih sama dengan urusan makan. Ketika seseorang dengan gaji hampir RP 10 juta biasanya makan di kantin kantor atau restoran dekat sana. Sekali makan keluar Rp 50 ribu ya masih aman untuk kebutuhan mereka. Nah buat yang penghasilannya sekadar pas-pasan ya pilihan paling tepat ya makan di warteg lah bos.

Jadi, masih mau menganggap beli rokok sebagai pemborosan?

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :