Benarkah Dana Bansos untuk Beli Rokok?

Kebiasaan merokok sering kali membikin orang-orang [yang tak merokok] dengki. Dan kedengkian itu memuncak tatkala pemerintah, melalui Jokowi, mengimbau bahwa dana bansos tidak perlu dipergunakan untuk membeli rokok.

Namun, kedengkian tersebut patut diluruskan. Sebenarnya, pemerintah tidak dengki melainkan mengimbau dengan hati-hati. Sebab, pemerintah melihat bahwa perokok membeli rokok dari dana bantuan sosial. Jelas harus diakui bahwa kenyataan di lapangan memang demikian.

Maka, Roki pun berharap kepada perokok untuk lebih adil dan arif ketika mempergunakan dana bantuan sosial. Jika perokok ingin membeli rokok, gunakan dari hasil jerih payah sendiri. Bukan menghamba pemerintah. Biarkan pemerintah yang menghamba kepada perokok agar penerimaan negara bisa meningkat. Eh.

Baca Juga: Sesat Pikir Bapak Muhajir tentang Rokok Penghambat Kemajuan Budaya Indonesia

Dana Bansos untuk Rokok?

Menurut Roki, kunci permasalahan adalah mengapa fokus pemerintah untuk dana bansos mengerucut pada rokok. Mengapa tidak mempermasalahkan dana tersebut yang disunat? Apakah pergantian Menteri Sosial dari Juliari Batubara ke Tri Rismaharini menyelesaikan masalah?

Belum tentu juga. Roki mengimbau kepada pemerintah bahwa dana tersebut jangan sampai tersunat dengan sengaja. Kamu bisa bayangkan ratusan ribu penerima bansos dipaksa menerima dana yang jumlahnya tidak genap sesuai aturan. Entah potongan dana tersebut dialamatkan kepada siapa.

Kok secara kebetulan potongan dana bansos mirip dengan dua kali harga sebungkus rokok. Tenang saja, Pemerintah. Perokok santun tahu dan paham bagaimana mendapatkan sebungkus rokok dengan baik dan benar. Jika ada yang belum santun, jangan serta merta memarahi, melainkan edukasi.

Rokok sering kali identik dengan orang miskin. Maka, menjadi wajar apabila pemerintah mewaspadai keinginan orang-orang itu untuk membeli rokok dengan dana bansos. Sehingga ada kekhawatiran bahwa kemiskinan berasal dari orang-orang yang salah mempergunakan dana untuk beli rokok. Akan tetapi, tidak semua orang miskin mempergunakan dana tersebut untuk membeli rokok. Ini perlu digarisbawahi.

Kemiskinan bisa terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya tidak sempurnanya amanat negara di Pasal 34. Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Alih-alih memelihara, yang terjadi adalah memotong dana bansos yang seharusnya digunakan untuk memulihkan ekonomi orang-orang terdampak pandemi.

Jadi, miskin karena rokok justru keliru. Lha wong karena rokok dan tentu saja cukainya, jujur saja, sangat membantu penerimaan negara. Buat apa cukai rokok naik kalo memang negara sangat membutuhkannya?

Baca Juga: Ruang Merokok Minim Tersedia, Indonesia Bukanlah Surga bagi Perokok

Komentar Anda
Category : Artikel