perokok

Benarkah Perokok Punya Risiko Lebih Sedikit Terkena Covid-19?

Di masa pandemi ini hampir sebagian besar orang merasa jenuh, mesti berdiam diri di rumah. Jangankan anda yang mengeluh akan hal tersebut, di berbagai belahan dunia pun sedang mengalami keadaan pahit yang sama. Namun perihal itu, anda sebagai kaum perokok jangan malah ikut-ikutan merasa bosan, coba sebats aja dulu biar rileks, sembari syukuri atas segala yang telah memberi kehidupan. Nah, seiring aktifitas kalian nyebats, saya bawa kabar menarik mengenai perokok yang disinyalir minim risiko penularan virus Covid-19.

Baru-baru ini sebuah penelitian luar mengabarkan bahwa dari 482 pasien Covid-19 asal Perancis, hanya sebesar 5 persen yang perokok. Itu dibuktikan dari salah satu laporan rumah sakit di Paris, yang diteliti dengan rentang waktu antara tanggal 28 Februari – 9 April. Ini bukan sembarang penelitian lho, sebab mereka menguji dengan mengambil sampel dari pasien perokok dan non-perokok.

Dilansir dari website resmi asing yang turut mengatakan juga bahwa tembakau dari rokok memiliki efek perlindungan baik. Bagi kalian mungkin yang sudah khatam mengenai khasiat dari rokok atau awal mula kemunculannya rokok kretek pun bukan tanpa alasan hadir di sekeliling kita hingga saat ini, nyatanya memberi kebaikan yang bermanfaat dan menghindari berbagai macam serangan penyakit, seperti bekhasiat menyembuhkan penyakit sakit gusi, membunuh kuman penyakit tuberculosis (TBC), asma dan lain sebagainya.

Selain itu, terkait nikotin yang ada pada rokok pun ternyata diteliti bisa menghalang laju berkembangnya virus, yang memainkan peran secara tidak langsung melibatkan protein membran sel (ACE2), tempat virus menempelkan dirinya untuk mendapatkan akses ke sel. Alhasil, dengan adanya nikotin membuat virus menjadi sulit mendapatkan akses.

Jadi pada kesimpulannya adalah virus corona atau Covid-19 sudah terbukti akan sulit menular pada kaum perokok, apalagi didukung dengan rumusan penelitian dan hasil laporan yang menunjukan lebih minim pasien perokok dibanding non perokok. Logikanya, jika itu adalah akal-akalan riset tidak akan yang namanya memalsukan informasi, khususnya sisi baik dari rokok.
Toh, jika nikotin, tembakau dan bahan campuran lainnya mengarah ke pengobatan, harusnya kita patut bersyukur dan berterima kasih pada rokok yang sampai saat ini selalu hadir di sekeliling kita, meski sedang dilanda wabah pandemi.

Buat saya pribadi, rokok bukan barang berbahaya, tetapi stigma maupun pola pikir lawas yang diturunkan turun-temurun tentang anggapan buruk rokok itu yang malah justru patut dibahayakan.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :