Benarkah Sri Mulyani Galau Kenaikan Cukai Rokok?

Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk menambah penerimaan negara adalah cukai rokok. Kontribusi cukai rokok terhadap penerimaan negara sangat luar biasa. Jika dipersentase, angkanya mencapai 96%. Maka, tidak heran apabila pemerintah menaruh harapan yang tinggi pada kenaikan cukai rokok.

Akan tetapi, apabila kenaikan cukai tersebut diberlakukan pada tahun depan, yaitu 2021, yang terjadi adalah seluruh petani tembakau akan berteriak. Hal ini disebabkan hasil panen pada tahun ini (baca: 2020) kurang menggembirakan. Penyebabnya ada dua.

Pertama, kondisi Indonesia yang sedang terjangkit pandemi virus corona membuat konsumsi terhadap rokok menurun. Kedua, harga rokok yang mengalami lonjakan sebesar 35% karena imbas kenaikan cukai rokok sekitar 23%.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila sejumlah petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) turun lapangan ke Jakarta, tepatnya di Tugu Tani, untuk mendemo pemerintah.

Baca Juga: Kenaikan Cukai Tidak Menguntungkan Negara

Mereka khawatir apabila pemerintah tetap menaikkan cukai rokok yang terjadi adalah pengangguran masal. Untuk beberapa daerah seperti Ngawi, Mojokerto ataupun Pasuruan, hal tersebut merupakan alarm berbahaya. Sebab, selama ini masyarakat di sana lebih banyak berada di industri padat karya yaitu pabrik rokok.

Sri Mulyani Galau?

Demonstrasi yang berujung dialog antara pemerintah—yang diwakili oleh Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko dengan sejumlah perwakilan petani tembakau memang belum menemui titik yang cerah.

Akan tetapi, hingar bingar demo tersebut ternyata terdengar ke telinga salah satu penentu keputusan naik atau tidaknya cukai rokok. Tidak lain tidak bukan adalah Sri Mulyani. Pasalnya, sampai saat ini belum ada kepastian apakah cukai rokok kembali naik atau tetap stagnan.

Tampaknya Sri Mulyani mulai galau. Hal tersebut terlihat ketika ia menyampaikan kegalauannya saat kuliah umum di FEB Universitas Indonesia secara virtual (18/11/2020).

Baca Juga: Yang Berat Itu Bukan Rindu, tapi Kenaikan Cukai

Menurutnya, ini hal yang tak mudah karena mempertimbangkan berbagai aspek. Seperti tenaga kerja. Tentu sentimen negatif kepada pemerintah akan mengalir deras apabila terjadi pengangguran massal. Slogan yang diciptakan Jokowi terkait kerja, kerja, kerja akan menjadi sia-sia.

Lalu, mungkinkah Sri Mulyani membatalkan kenaikan cukai rokok 2021? Roki berharap pemerintah betul-betul mendengar keluhan dan rintihan dari petani tembakau

Komentar Anda