Berhenti Merokok saat Pandemi Covid-19

Pelajaran yang paling berharga saat pandemi Covid-19 melanda di Indonesia adalah menurunnya aktivitas ekonomi. Manusia dipaksa mengurangi aktivitas, disarankan lebih banyak di rumah, dan sering menjaga kesehatan. Untuk yang terakhir, aktivis kesehatan menyarankan untuk tidak bahkan berhenti merokok. Sebab, merokok berpotensi menularkan virus Covid-19.

Asap rokok sebagai biang keladi dan puntung rokok sebagai tambahan penyebab. Padahal, untuk yang kedua, benda apa pun bisa menjadi penyebab. Gelas yang disajikan untuk minuman, sedotan yang dibuang, hingga tisu tak ditaruh di tempat sampah. Lalu, benda apa lagi selain rokok yang bisa menjadi penyebab penularan Covid-19? Banyak. Tapi, mengapa rokok yang dipersalahkan?

Baca Juga: Benarkah Asap Rokok Jadi Perantara Penularan Covid-19?

Rokok dan Covid-19

Polemik rokok di saat pandemi seperti ini terus bermunculan. Rokok menjadi barang penularan Covid-19, tarif cukai rokok yang naik, hingga pengelolaan kawasan tanpa rokok. Khusus tarif cukai rokok, ini memang aneh bin ajaib. Mengapa demikian?

Saat ini, sudah menjadi rahasia umum bahwa perekonomian agak sulit. Begitu pula dengan perokok. Mereka tak mampu membeli rokok idaman. Alhasil, mereka merokok dengan cara lain. Tingwe alias linting dewe.

Agar tidak kehilangan konsumen, pabrik rokok berlomba-lomba mengeluarkan produk terjangkau. Namun, itu belum cukup. Lambat laun, pabrik mulai merumahkan karyawannya. Sebab, konsumsi tak lagi meningkat maka daya produksi perlu ditekan.

Ketika barang tidak dapat beredar semasif dulu, lalu banyak karyawan sudah dirumahkan, berarti tinggal dua pilihan. Menurunkan golongan, yang biasanya I menjadi II, atau gulung tikar. Beberapa pabrik rokok ada yang menggunakan pilihan pertama, dan ada pula yang kedua.

Di saat pabrik rokok sedang dihimpit persoalan produksi, pemerintah menaikkan tarif cukai rokok. Tentu saja harga rokok makin naik. Meskipun, tidak semua jenis rokok naik cukainya. Hanya SKT yang masih bertahan. Namun demikian, berapa banyak, sih, perokok yang bertahan di SKT?

Itu juga menjadi persoalan utama. Masalahnya, kok, ya cukai rokok tahun 2020 tembus angka lebih dari Rp150 Triliun. Alhasil, harapannya tahun ini bisa menembus hingga Rp173 Triliun.

Apakah pabrik dan perokok mampu memenuhi target pemerintah? Entahlah. Selain pemerintah sedang pusing karena maraknya rokok ilegal, pemerintah juga pusing daya konsumsi rokok kemasan agak menurun.

Padahal, bisa jadi karena adanya Covid-19 seakan menjadi alasan yang tepat untuk berhenti merokok. Ada saatnya mereka akan berhenti melakukan aktivitas seperti itu. Seperti, tak ada lagi rokok di atas meja.

Baca Juga: Cerita Lucu Perokok di Tengah Karantina Corona

Komentar Anda