petani tembakau

Biaya Produksi Naik, Petani Tembakau Jember Tetap Optimis

Di masa tanam tembakau, para petani tidak sedikit merasa ada keganjilan berbeda dibanding tahun sebelumnya. Tak lain penyebab di tahun ini berasal dari adanya kenaikan biaya produksi. Atas kenaikan itu dapat terlihat pada besarnya harga pupuk yang kian melonjak.

Seperti di Jember, para petani tembakau mengaku tahun ini biaya produksi naik sebesar 50 persen, penyebab utamanya berasal dari harga pupuk. Apalagi ditambah tahun ini pemerintah mengurangi kuota pupuk sebesar 50 persen untuk daerah tersebut.

Berdasarkan data dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), bahwa kuota pupuk urea Jember tahun 2020 hanya mendapat jatah 47.038 ton. Berbeda dengan tahun lalu yang mencapai 89.975 ton. Alhasil, petani mengalami kesulitan untuk mencari pupuk di masa tanam seperti ini. Jika seandainya alokasi diberikan secara rata, tentu hasilnya dapat mempengaruhi banyak hasil panen di sejumlah komoditas, seperti tembakau, padi dan jagung.

Terkait harga pupuk yang naik, salah satu petani tembakau mengungkapkan bahwa tahun lalu harga pupuk hanya sebesar Rp 180.000 per kuintal, namun kini harganya melonjak naik mencapai Rp 280.000 per kuintal. Jika harga pupuk naik maka imbasnya terasa pada biaya produksi. Terlebih biaya produksi yang paling banyak dikeluarkan berasal dari pupuk.

Dapat dibayangkan petani tembakau Jember biasa membeli pupuk sebanyak 6 kuintal untuk disebar di areal persawahan. Dan mau tidak mau mereka harus ada pengeluaran besar. Meski dalam pantauan saat ini usia tembakau baru berumur satu bulan, hingga menuju September di masa panen. Mereka tetap optimis bahwa hasil panen nantinya bakal berkualitas bagus dan menguntungkan petani. Yang semoga imbasnya juga terjadi pada harga jual yang tetap ideal, berhasil dipasok ke gudang tembakau saat nanti pembelian.

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal bahwa di daerah tersebut merupakan penghasil jenis tembakau kasturi yang lumayan berkualitas bagus. Sayang saja, bila kita sebagai kaum perokok tidak tau menau akan persoalan ini. Mulai dari sekarang, hisapan rokok yang selama ini kita rasakan harus sudah mulai diimbangi akan segala rasa hormat kepada mereka. Selain itu, jerih payah mereka bakal terbayar apabila tidak melulu dicekik dengan biaya produksi dan harga pasar yang kian melambung.

Komentar Anda
Category : Artikel
Tags :