Cukai Rokok dan Kenaikan Harganya yang Melambung

Dikutip dari https://ramadan.tempo.co, WHO meminta beberapa negara Arab untuk menghilangkan iklan dengan adegan rokok selama bulan Ramadhan karena diduga mempengaruhi tingkat konsumsi rokok para remaja di beberapa negara tersebut.

Hal ini tentu menarik untuk ditelisik mengingat di Indonesia, isu tentang kenaikan cukai rokok berhubungan dengan pendapatan negara. Apalagi melihat dari sektor industri kreatif periklanan, terutama iklan produk tersebut pada sisi yang lain.

Baca Juga: Keinginan Tak Terbatas Kelompok Antirokok

Dalam logika ekonomi sederhana, harga sebuah komoditas merupakan akumulasi dari harga bahan baku, upah buruh dan biaya distribusi plus pajak. Logika sederhana ini akan menjadi panduan untuk memahami bagaimana kenaikan harga rokok di Indonesia. Sebuah konsekuensi dari pungutan negara terhadap sektor industri yang mengalami kenaikan cukai tiap tahunnya.

Harga Rokok

Pascal Saint-Amans, Direktur Pusat Kebijakan dan Administrasi Pajak OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) mengatakan bahwa di negara-negara seperti Perancis, Chile dan Finlandia, beban cukai rokok mencapai 80% dari harganya.

Acuan inilah membuat Kepala Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai Deni Surjantoro mengatakan harga rokok Indonesia masih murah. Meskipun pemberitaan itu tertanggal tiga tahun yang lalu, acuan terhadap kenaikan cukai tersebut tahun ini berpengaruh terhadap pendapatan negara.

Harga 1 bungkus Gudang Garam Surya 12 misalnya, di beberapa toko eceran di Yogyakarta biasanya di kisaran Rp17.500-18.000 sekarang sudah mulai naik di kisaran angka Rp19.000. Hal ini Roki temui berdasarkan temuan di lapangan sebelum Ramadhan. Pada acuan tersebut, seorang perokok Surya 12 rata-rata mengeluarkan Rp570.000 per hari. 

Harga tersebut cukup mahal mengingat kondisi pandemi yang membuat sebagian orang berpikir untuk mengalokasikan pendapatannya. Namun, bagi perokok, harga tersebut tidak bisa dikalkulasi dengan perhitungan rasional semata.

Di sisi lain, harga rokok yang naik mengikuti logika kenaikan cukai tentu perhitungan lain bagi masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli produk dengan merk tertentu karena memang dirasa mahal. Akibatnya, keterjangkauan seseorang untuk membeli rokok sangat ditentukan oleh pendapatan per kapita serta beban pengeluaran rata-rata bulanannya.

Baca Juga: Berhenti Merokok saat Pandemi Covid-19

Maka, bila mengacu pada ungkapan bahwa harga rokok di Indonesia terbilang murah, itu perlu ditinjau ulang dengan melihat variabel pendapatan per kapita, pengeluaran rutin tiap bulan.

Terkadang, secara nominal harga tersebut memang murah, apalagi dibandingkan dengan negara-negara yang pendapatan per kapita masyarakatnya tinggi seperti Australia saja. Sehingga wajar, harga rokok di sana yang terbilang mahal bila menggunakan kurs Indonesia akan tetap terbeli.

Oleh karena itu, setiap pejabat perlu untuk bijak dalam mengeluarkan satu pernyataan terkait sesuatu, khususnya produk yang sering dianggap merugikan banyak orang.

Komentar Anda